Mendiagnosa Penyakit Kronis Insan Televisi Indonesia

Oleh M.Arif.Billah Syah Putra. Lubis.S.sos

Semua orang pasti setuju kalau televisi dimasukkan sebagai salah satu penemuan terpenting di abad ke dua puluh. Kemampuan audio visual dari kotak ajaib yang ditemukan oleh  J.L. Baird  dan C.F. Jenkins ini menembus rintangan bentang geografis menjadikannya agen paling ideal bagi penyebaran ide-ide globalisasi. Tidak heran jika timbul pendapat di kalangan pemerhati sejarah bahwa “kelahiran” tekhnologi televisi merupakan awal dari era globalisasi. Pertumbuhan ekonomi dan kemajuan tekhnologi menganugerahi televisi posisi sebagai “barang primadona yang wajib ada” di ruang keluarga kita. Baca lebih lanjut

Menggugat Efektifitas Iklan Pemerintah

Oleh: Muhammad Arif BSP Lubis

(Penulis adalah alumnus ilmu komunikasi FISIP USU)

Entah kebetulan atau “sebuah kebetulan yang disengaja” mendekati Pemilu, setiap instansi pemerintah seakan berlomba mengeluarkan pencitraan positif  terhadap kinerjanya masing-masing. Dari sekian banyak iklan pemerintah yang berseliweran di layar kaca, iklan sekolah gratis adalah iklan yang paling kontroversial.

Bagaimana tidak, seperti yang diakui oleh salah seorang anggota tim sukses            SBY-BERBUDI, Rizal Malaranggeng pada sebuah acara di TV ONE setelah debat capres, istilah sekolah gratis sebenarnya adalah ungkapan“ Hiperbola “ Karena sejatinya pemerintah baru mau dan mampu menanggung biaya operasional sekolah secara terbatas. Jadi kalaupun ada yang bisa digratiskan, hanya sebatas uang SPP saja. Pengakuan tersebut diperkuat dengan hasil wawancara Metro TV dengan Bambang Soedibyo, menteri pendidikan kabinet Indonesia Bersatu. Dalam salah satu episode Metro Realitas yang mengangkat kontroversi iklan sekolah gratis, sang menteri ditanyai mengenai makna sekolah gratis dalam iklan keluaran Departemen Pendidikan tersebut. Bukannya menjelaskan panjang lebar, sang menteri malah menghina rakyatnya dengan ungkapan “ yang dimaksud dengan gratis itu ya bukan berarti semuanya gratis. Klo mengikuti persepsi masyarakat, sarapan untuk anak-anak itu pun mereka maunya dibayari ” Ungkapan ini seolah-olah menyamakan semua orang tua di Indonesia adalah orang miskin yang bermental pengemis. Padahal walau banyak rakyat kita miskin, tetapi banyak diantaranya adalah orang tua-orang tua yang penuh harga diri dan tanggung jawab atas kesejahteraan anak-anaknya.

Baca lebih lanjut

Hiperrealitas Iklan Politik

Oleh: Vinsensius Sitepu

(Penulis adalah Lektor Luar Biasa Departemen Ilmu Komunikasi FISIP

Universitas Sumatera Utara)

Di satu sisi, berbagai film iklan calon presiden yang ditayangkan di televisi adalah cerminan realitas baru dalam komunikasi politik negeri ini. Mereka yang ingin menjadi orang nomor satu di negeri ini mencoba mencuri hati masyarakat, dengan harapan upaya persuasi tersebut mampu mengubah sikap masyarakat.

Berbagai perusahaan menghabiskan milyaran rupiah untuk beriklan televisi karena sangat paham daya pengaruhnya yang tinggi kepada calon konsumen. Hal serupa sebenarnya diterapkan para calon presiden yang mengiklankan diri melalui televisi. Ini sekaligus memberikan pemahaman kepada kita bahwa film iklan memberikan dampak yang besar dalam mengubah persepsi publik, sebagaimana yang terbukti pada iklan-iklan produk konsumsi. Baca lebih lanjut

Diprogram Televisi

Oleh: Vinsensius Sitepu
(Penulis adalah Lektor Luar Biasa
Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU)

Hasil penelitian mengenai dampak tayangan televisi terhadap perubahan perilaku anak-anak cukup sering kita dengar dan kita baca. Namun, menemukan bahwa televisi memainkan peranan penting dalam memprogram akal budi yang bekerja layaknya virus adalah perspektif yang tak kalah menarik.

Beberapa waktu yang lalu ada pertanyaan menarik dari mahasiswa saya, “Materi kuliah yang abang sampaikan lebih pada relasinya dengan komunikasi massa daripada teknologi komunikasi, seperti nama mata kuliah ini sendiri.” Sebenarnya saya tidak menyalahkan pendapat ini, karena ada benarnya juga. Namun, dalam konteks disiplin ilmu sosial, dalam hal ini ilmu komunikasi, entitas teknologi komunikasi layaknya dominan disampaikan dalam konteks itu pula. Mahasiswa tadi berharap mendapatkan lebih banyak materi teknis dan prinsip kerja berbagai inovasi di bidang teknologi komunikasi. Masalahnya, dominasi atas perspektif demikian mengubah ruang lingkup ilmu komunikasi sebagai ilmu sosial terapan menjadi kajian telematika, ilmu komputer dan telekomunikasi. Memang hal demikian tidak bisa dihindarkan, namun sejatinya tidaklah terlalu dominan. Baca lebih lanjut

Ketika Pertanyaan Kebenaran adalah Detik Waktu Kita

Ketika pertanyaan kebenaran adalah detik waktu kita. Kalimat seperti ini sudah terlalu sering kita dengar dan kita baca. Dan barangkali juga tidak sedikit yang sudah menuliskannya sebagai sebuah hasil kontemplasi filosofis selama bertahun-tahun.

Dalam tahapan kontemporer saat ini, bolehlah kita menyandarkan pemikiran pada para filsuf yang memang selalu mempertanyakan kebenaran di setiap detik hidup mereka. Dan mereka memang hidup untuk itu. Termasuk kita, khususnya ketika tidak menyadari bahwa sebenarnya tidak ada yang disebut kebenaran. Kebenaran secara praksis hanyalah permainan semantik, bahasa dan simbol-simbol komunikasi yang sebenarnya berkehendak berkuasa. Baca lebih lanjut

Menyambut Ramadhan: MUI Minta Tayangan TV Edukatif dan Religi

Menyambut datangnya bulan suci Ramadhan 1429 H, Majelis Ulama Indonesia (MUI) meminta agar tayangan-tayangan televisi yang berbau pornografi, pornoaksi, misteri, ramalan-ramalan, kekerasan, lawakan konyol dan berpakaian yang tidak sesuai dengan akhlakul karimah untuk tidak ditayangkan. MUI berharap agar isi program tayangan televisi pada Ramadhan ini bisa bermanfaat bagi pembinaan akhlak masyarakat khususnya generasi muda.

Hal itu terungkap dalam taushiyah MUI menyosong bulan Ramadhan 1429 Hijriyah yang ditandatangani oleh Ketua MUI, Umar Shihab, Jumat (29/8).

Dalam taushiyah tersebut juga diungkapkan, MUI menghimbau kepada para elit politik agar menjadikan bulan Ramadhan sebagai bulan muhasabah bagi kehendak yang hanif untuk kemaslahatan bangsa dan juga menghindari bahaya politik dengan mengedepankan kepentingan bangsa dan negara.

Selain itu, MUI juga meminta kepada mereka untuk menjaga kemuliaan bulan Ramadhan dengan menghindari kegiatan kampanye yang diwarnai sikap, penampilan, ucapan dan perbuatan yag tidak terpuji. (Sumber:kpi.go.id)

Don’t Worry Be Happy, Media Cetak Masih Tangguh Berdiri

Membincangkan permasalahan multimedia yang menjadi nama rubrik halaman ini, selayaknya juga harus membicarakan media lain di mana karakter isinya menjadi bagian dari dunia multimedia. Salah satu yang menarik adalah mengkaji posisi surat kabar di tengah arus informasi dari media-media baru berbahasa digital.

Visi Nicholas Negroponte dan Alvin Toffler kerap terlintas di pikiran kita jika kita melihat kecenderungan Internet dewasa ini. Pasalnya, visi mereka internet sebagai media baru (new media) saat ini menjadi konkret apa adanya, jauh sebelum kedua pakar ini menelurkan pemikiran ini, masyarakat awam tidak pernah menyangka internet menjadi media komunikasi yang sangat kaya isinya. Khasanah multimedia yang dulu permah direkatkan pada surat kabar, karena memuat teks dan gambar yang berwarna, kini interner jauh lebih baik dan hidup! Tentu juga dengan melihat daya jangkaunya yang menembus batas negara dan benua, internet memang benar-benar memenuhi kebutuhan manusia akan lesatan informasi yang lengkap dan maha luas lingkupnya. Meski harus disadari bahwa di negeri sendiri penetrasinya di daerah lambat bergerak. Baca lebih lanjut