Kultur Media (2)

Catatan Minggu, Kompas, Minggu, 20 Januari 2008

 

Pemakaman Giribangun berangsur sepi. Sebuah stasiun radio swasta di Jakarta yang menyiarkan perkembangan kesehatan Soeharto menit demi menit selama 24 jam, kini kembali ke pola-pola siara reguler, termasuk memutar lagu-lagu agak lawas. Para wartawan yang berjaga di Rumah Sakit Pusat Pertamina mulai mengendur militansinya. Ada yang jatuh sakit, ada yang minta cuti untuk bisa berkumpul dengan keluarga berhari-hari begadang di rumah sakit.

Selama beberapa waktu sebelumnya, dengan peliputan intensif sekitar sakitnya Soeharto, televisi menciptakan realitas mendahului kepercayaan lama bahwa nyawa manusia di tangan Yang Kuasa, dengan ilusi seolah hidup Soeharto bakal berakhir dalam hitungan jam. Tenda didirikan, kursi ditata, perta perjalanan bandara Adisumarno-Giribangun dipaparkan grafisnya. Sebuah media di Malaysia pekan lalu memberitakan, Soeharto meninggal dunia.

Kontak media cetak dengan pembacanya adalah kontak tulisan. Itu berbeda dengan televisi. Kontak televisi dengan pemirsanya adalah kontak gambar, kontak image. Pengandainnya, kalau kontak tulisan menstimulasi intelek, kontak image melahirkan apa yang disebut oleh Jean Baudrillard sebagai simulakra.

Apa itu simulakra? Simulakra adalah realitas gadungan, yang tingkatnya lebih parah daripada imaga atau citra-yang konsekuensi publiknya juga lebih serius daripada orang yang jaim alias “jaga image”. Baudrillard meyakini gambar yang dihasilkan televisi telah melahirkan realitas sendiri yang disebut simulakra tadi-suatu image, suatu citra, yang telah terlepas dari asal usulnya. Kalau diletakkan dalam tingkatan-tingkatan, kira-kira tingkatannya sebagai berikut. Tingkat pertama, image tadi merefleksikan realitas dasar. Tingkat kedua, image tadi membelokkan realitas yang hendak digambarkannya. Tingkat ketiga, image menutupi realitas sebenarnya yang tidak ada. Tingkat keempat, image sama sekali tidak ada hubungan sama sekali dengan realitas apapun: ia asli sebagai simulakra. Sekada contoh untuk yang terakhir itu, ketika sesuatu yang nyata telah tidak ada, nostalgia ambil peranan, mengganti kenyataan yang telah tiada menjadi tetap ada dan seolah otentik. Kota lama kita yang berantakan tetap kita anggap cantik karena adanya nostalgia. Tiwul tetap terasa enak karena disantap dengan nostalgia.

Liputan televisi kita mengenai Soeharto di rumah sakit dalam beberapa hal adalah simulakra itu. Dia menghadirkan realitas baru yang tidak ditemui masyarakat dalama kehidupan nyata sehari-hari: dokter yang penuh dedikasi dengan jas dan dasi tidak seperti dokter puskesmas di Desa Ciawi atau desa di mana saja, komentar para artis sinetron bahwa Soeharto orang penuh jasa, dan seterusnya.

Itu semua mengubur atau memang tak ada hubungannya sama sekali dengan risalah kekuasaan Soeharto yang penuh darah dan korup.

Ada juga realitas gadungan yang kemudian tersingkap kedoknya. Rute ke Giribangun telah disiapkan, seolah bakal terjadi sesuatu dalam beberapa jam. Nyatanya para pembikin berita yang teler duluan. (Bre Redana)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s