Menggugat Efektifitas Iklan Pemerintah

Oleh: Muhammad Arif BSP Lubis

(Penulis adalah alumnus ilmu komunikasi FISIP USU)

Entah kebetulan atau “sebuah kebetulan yang disengaja” mendekati Pemilu, setiap instansi pemerintah seakan berlomba mengeluarkan pencitraan positif  terhadap kinerjanya masing-masing. Dari sekian banyak iklan pemerintah yang berseliweran di layar kaca, iklan sekolah gratis adalah iklan yang paling kontroversial.

Bagaimana tidak, seperti yang diakui oleh salah seorang anggota tim sukses            SBY-BERBUDI, Rizal Malaranggeng pada sebuah acara di TV ONE setelah debat capres, istilah sekolah gratis sebenarnya adalah ungkapan“ Hiperbola “ Karena sejatinya pemerintah baru mau dan mampu menanggung biaya operasional sekolah secara terbatas. Jadi kalaupun ada yang bisa digratiskan, hanya sebatas uang SPP saja. Pengakuan tersebut diperkuat dengan hasil wawancara Metro TV dengan Bambang Soedibyo, menteri pendidikan kabinet Indonesia Bersatu. Dalam salah satu episode Metro Realitas yang mengangkat kontroversi iklan sekolah gratis, sang menteri ditanyai mengenai makna sekolah gratis dalam iklan keluaran Departemen Pendidikan tersebut. Bukannya menjelaskan panjang lebar, sang menteri malah menghina rakyatnya dengan ungkapan “ yang dimaksud dengan gratis itu ya bukan berarti semuanya gratis. Klo mengikuti persepsi masyarakat, sarapan untuk anak-anak itu pun mereka maunya dibayari ” Ungkapan ini seolah-olah menyamakan semua orang tua di Indonesia adalah orang miskin yang bermental pengemis. Padahal walau banyak rakyat kita miskin, tetapi banyak diantaranya adalah orang tua-orang tua yang penuh harga diri dan tanggung jawab atas kesejahteraan anak-anaknya.

Hinaan ala “orang sukses “ seperti lontaran Pak Menteri pernah pula dilakukan oleh Megawati Soekarno Putri. Dalam kampanyenya, putri Presiden pertama RI itu seakan menuding orang-orang yang antri BLT adalah orang yang tidak punya harga diri. Meski ucapan tersebut sudah coba diluruskan oleh tim kampanye Mega Pro dikemudian hari, tapi apa daya, masyarakat sudah terlajur terhina dan memberi hukuman berupa vonis kekalahan di Pilpres untuk kedua kalinya. Beruntung pesona wibawa SBY telah membutakan rasionalitasan masyarakat, sehingga sang jenderal tidak harus menanggung beban ucapan sang  bawahan.

Fakta sekolah gratis Cuma sebatas utopia tercermin dari kalkulasi anggaran yang dialokasikan pemerintah guna mendukung program sekolah gratis ini, dalam setahun pemerintah cuma menganggarkan dana empat ratusan ribu rupiah untuk untuk setiap siswa SD, sedangkan untuk siswa SMP/ SLTP pemerintah Cuma menganggarkan dana lima ratusan ribu perkepala. Pertanyaan sederhananya, cukupkah uang sebesar itu untuk menjadikan bangku SD-SLTP menjadi hak setiap anak bangsa? Sekedar informasi saja, sejak beberapa tahun belakangan, Jakarta masuk ke dalam salah satu dari sepuluh kota termahal di Dunia.

Waktu penayangan iklan ini juga harusnya menjadi bahan kajian di Bawaslu. Masih menurut pengakuan Pak Menteri lagi, program sekolah gratis sebenarnya telah dimulai sejak awal tahun 2009. Tetapi mengapa iklannya baru diluncurkan di masa tenang. Iklan tersebut seolah merupakan jawaban bagi kampanye Mega-Pro yang giat mengusung semangat pendidikan murah bagai rakyat. Sebagai iklan pemerintah, sangat sedikit penjelasan yang bisa ditangkap dengan mudah oleh rakyat jelata dari iklan yang dibintangi oleh Cut Memey tersebut. Tidak ada sedikitpun informasi mengenai apa saja yang “harus digratiskan” oleh sekolah. Rakyat juga tidak tahu harus mengadu kemana jika ada sekolah yang membandel. Mungkin yang diingat rakyat hanyalah sound track dan tarian beramai-ramai yang diregakan para model di iklan tersebut. Jadi kalaupun ada yang gratis di Indonesia, itu pasti cuma tahi kucing. Bahkan bila tahi kucing tersebut telah masuk dalam kemasan berlabel kompos, perlu rupiah untuk memanfaatkannya.

Deretan iklan pemerintah yang “tidak ada gunanya” terus berlanjut dengan iklan dari kementerian Koperasi dan UKM. Dalam iklan versi “sejarah koperasi” yang paling sering tayang di Metro TV, tidak ada satu pun informasi penting yang bisa didapatkan insan perkoperasian Indonesia, kalaupun ada itu hanyalah “hapalan” nama-nama menteri dan tokoh koperasi di masa lalu. Departemen pertanian juga mengeluarkan iklan versi keberhasilan pembangunan pertanian. Yang sekali lagi lebih kental unsur muatan politisnya dibanding keberpihakan terhadap petani. Dan ada satu iklan yang menurut penulis adalah iklan siluman ( mengutip istilah Jusuf Kalla dalam debat capres terakhir ) yakni iklan tentang rasio perbandingan hutang negara. Iklan tersebut muncul dalam dua versi. Pertama versi perbandingan rasio hutang Indonesia dengan hutang luar bangsa-bangsa besar lain. Versi kedua, penulis tonton pertama kali setelah Pemilu di layar Metro TV, berilustrasi penurunan rasio perbandingan hutang dengan pendapatan nasional yang cenderung membaik dari tahun ke tahun. Dikatakan siluman karena sampai tulisan ini diketik, tidak jelas siapa inisiator iklan tersebut. Bukan itu saja, Iklan dengan tema hutang Indonesia itu muncul dalam durasi sangat singkat dan diwaktu yang tidak bisa diprediksi secara akurat.

Satu-satunya iklan pemerintah yang boleh mendapat acungan jempol adalah                  iklan-iklan keluaran dirjen pajak. Terutama versi yang paling penulis suka, yaitu versi “ aparat pajak yang anti KKN “ dilukiskan dalam iklan tersebut seorang pejabat dirjen pajak didatang oleh sahabat akrabnya sejak kecil. Sang sahabat yang sekarang telah menjadi pengusaha mencoba memanfaatkan kedekatan mereka untuk memperingan beban pajaknya dengan cara ilegal. Namun dengan pertimbangan azas kejujuran dan profesionalitasan, sang pejabat menolak ajakan “kong kali kong” tersebut, meski dengan resiko kehilangan jalinan persahabatan. Tag line iklan yang berbunyi “ lunasi pajaknya, awasi penggunaannya” benar-benar sebuah upaya persuasif yang sangat efektif. Singkat, mudah diingat dan mengajarkan filosofi bahwa melunasi pajak adalah kepentingan kita bersama. Dan agar lebih lekat diingat dalam benak rakyat, hampir disetiap versi iklan selalu dilengkapi dengan kalimat yang dipopulerkan oleh tokoh Naga Bonar, jenderal rekaan yang melegenda di jagad perfiliman nasional “………apa kata dunia???” Beragam versi iklan dirjen pajak harusnya menjadi suri tauladan instansi lain. Sebab semuanya dikemas secara kreatif sehingga unsur-unsur “menggurui” maupun instruksi dalam semua iklan salah satu jajaran departemen keuangan tersebut tertutupi dengan elegan atau sesekali  dengn nuansa “kocak”

Sudah seharusnya dari pihak wakil rakyat ada koreksi nyata dan tegas terhadap pengeluaran bagi kepentingan iklan-iklan pemerintah. Bukan saja dari segi alokasi anggaran tetapi juga dari segi efektifitas maupun etika. Janganlah anggaran pendidikan yang meski katanya sudah mencapai 20 % dari total APBN dan masih diakui kurang oleh semua kalangan, semakin berkurang demi membiayai artis-artis seperti Cut Memey menari dan bernyanyi di televisi. Begitu pula departemen-departemen yang lain. Sosialisasi yang paling efektif tidak harus beriklan. Apalagi memaksakan diri beriklan di televisi yang tarifnya jutaan rupiah perslot iklan. Ada banyak cara lain yang tidak kalah efektif. Misalnya dengan langsung terjun ke lapangan memberi penerangan, bekerja sama dengan berbagai institusi perguruan tinggi atau pihak-pihak lain yang berkepentingan, selebaran, spanduk dan media promosi murah meriah lainnya.

Kalau beriklan hanya untuk pembentukan citra positif pemerintah, ingat baik-baik wahai para pejabat, negeri ini terlalu miskin untuk proyek-proyek pencitraan rezim berkuasa. Bukankah pepatah mengatakan “ cahaya intan tak hilang walau di pelimbahan” Dan yang terpenting, harus ada aturan tegas bin jelas agar incumbent tidak memetik keuntungan “ tidak adil” dari iklan-iklan pemerintah yang dipaksakan kemunculannya.

Iklan

Satu pemikiran pada “Menggugat Efektifitas Iklan Pemerintah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s