Hiperrealitas Iklan Politik

Oleh: Vinsensius Sitepu

(Penulis adalah Lektor Luar Biasa Departemen Ilmu Komunikasi FISIP

Universitas Sumatera Utara)

Di satu sisi, berbagai film iklan calon presiden yang ditayangkan di televisi adalah cerminan realitas baru dalam komunikasi politik negeri ini. Mereka yang ingin menjadi orang nomor satu di negeri ini mencoba mencuri hati masyarakat, dengan harapan upaya persuasi tersebut mampu mengubah sikap masyarakat.

Berbagai perusahaan menghabiskan milyaran rupiah untuk beriklan televisi karena sangat paham daya pengaruhnya yang tinggi kepada calon konsumen. Hal serupa sebenarnya diterapkan para calon presiden yang mengiklankan diri melalui televisi. Ini sekaligus memberikan pemahaman kepada kita bahwa film iklan memberikan dampak yang besar dalam mengubah persepsi publik, sebagaimana yang terbukti pada iklan-iklan produk konsumsi.

Simulasi realitas

Pada pandangan awam, audiens akan berpendapat bahwa visi calon presiden pada film iklan adalah realitas dasar dari apa yang berada di benak komunikator. Namun, di sisi yang lain fenomena komunikasi seperti ini menyisakan pertanyaan pada aspek pencitraan realitas yang tersimulasi. Sebab, ketika film iklan itu menjadi wacana dari keseharian kita di depan televisi dan ditayangkan berulang-ulang kali, maka ia membantu membentuk simulasi atas realitas substansinya.

Penonton tidak pernah merasakan secara langsung apakah memang benar calon presiden tersebut melakukan seperti hal yang ditunjukkan tersebut. Dan ketika penonton tidak mampu (mungkin juga tidak perlu untuk tidak mampu) menikmati itu sebagai objek langsung, maka film iklan dan televisi membuatnya bisa dinikmati oleh jutaan penonton pada saat yang bersamaan, sebab ia disimulasikan.

Seperti iklan produk rokok misalnya. Pencitraan perokok sejati yang sanggup sendiri memanjat tebing adalah visualisasi yang menjungkirbalikkan logika dasar manusia. Tiada mungkin perokok sejati adalah seseorang yang sehat, sehingga kuat memanjat tebing. Justru pemanjat tebing membutuhkan stamina yang prima dengan nafas yang tidak terkontaminasi asap rokok.

Hal yang lebih kurang sama kita temukan pada film iklan calon presiden. Iklan Wiranto yang memakan nasi aking bersama sebuah keluarga miskin misalnya adalah sebuah simulasi realitas bahwa Wiranto peduli dengan rakyat miskin. Film iklan tersebut hanya merepresentasikan sikap Wiranto secara visual (memakan, senyuman dan gerakan tangan), bukan seluruhnya terjadi pada tataran di dunia nyata.

Demikian juga iklan Rizal Mallarangeng yang direpresentasikan berada di tengah-tengah rakyat di berbagai daerah di Nusantara adalah upaya simulasi atas realitas yang sebagian darinya belum pernah terjadi. Apa yang terjadi adalah penciptaan ‘realitas’ baru, di mana seolah-olah ia hadir sebagai realitas yang benar-benar real. Ada kesan ketergesaan atas eksistensi seseorang di antara orang lain yang hendak membawa perubahan yang benar-benar nyata.

Feign, presence dan absence

Pada aspek seperti ini, maka simulasi realitas pada dasarnya adalah sebuah tindak (action) yang memiliki tujuan tertentu, yaitu membentuk sebuah persepsi yang cenderung palsu (seolah-olah mewakili kenyataan). Jean Paul Baudrillard menyebutnya dalam kalimat: to simulate is to feign to have what one hasn’t. One implies a presence, the other an absence. Tindakan menyimulasikan sesuatu adalah dengan berpura-pura memiliki apa yang sebenarnya tidak dimiliki. Di satu sisi menyatakan keberadaan, di sisi lainnya tidak eksis.

Baudrillard menyuguhkan contoh pada seseorang yang berpura-pura sakit dengan memerankan gejala orang yang sakit: For if any symptom can be “produced,” and can no longer be accepted as a fact of nature, then every illness may be considered as simulatable and simulated, and medicine loses its meaning since it only knows how to treat “true” illnesses by their objective causes. Maka, jika sebuah film iklan menunjukkan visual yang tidak bisa lagi diterima sebagai fakta yang alami, maka substansi iklan tersebut telah disimulasikan dari objek yang sesungguhnya ada atau tidak ada sama sekali.

Hiperrealitas

Pandangan kritis posmodernis Baudrillard membuka pandangan yang berbeda, di mana film iklan justru tidak mendasarkan pada realita dasar bahkan lebih ekstrem lagi tidak ada realita dasar yang menjadi acuannya. Yang bermain adalah simulasi atas realitas untuk menghasilkan realitas yang baru, di mana realitas itu lebih real daripada yang real (hiperrealitas). Pada tahap ini teks (film iklan) kehilangan jarak dengan realitas. Yang benar dan real adalah kebenaran simulasi itu, tanpa kita ketahui dan memang tidak ada lagi realitas dasar aslinya.

Ada empat tahapan dalam pencitraan menurut Baudrillard. Pertama pencitraan adalah refleksi dari realitas dasar. Kedua, ia menutupi dan menyesatkan realitas dasar. Ketiga, menutupi ketidakhadiran realitas dasar. Keempat, tidak mengacu atau memiliki relasi dengan realitas manapun. Pada tahap inilah muncul simulasi yang sempurna.

Baudrillard memandang dunia saat ini adalah dunia simulasi. Keberadaan simulasi itu tersebar luas. Dan film iklan adalah bagian dari itu. Dengan demikian adalah sangat sulit membedakan antara yang nyata dengan yang imajiner, yang benar dan yang palsu. Setiap kondisi sekarang adalah godokan dari yang nyata dan yang imajiner. Baudrillard menegaskan “yang benar dan yang nyata mati, lenyap dalam longsoran simulasi.”

Iklan

3 pemikiran pada “Hiperrealitas Iklan Politik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s