MELAWAN KUTUKAN TIGA RIBU EKSEMPLAR

Yang menarik adalah munculnya bukan penerbit utama dalam jajaran daftar best-seller nonfiksi. Ui’uk Press, penerbit yang selama ini lebih banyak meluncurkan karya-karya terjemahan, mencatat sukses lewat Rahasia di Balik Penggalian Al-Aqsha karya Abu Aiman. Sejak terbit pertama kali pada September 2007. buku ini sudah cetak ulang tiga kali. “Tcmanya tepat waktu dan orang mungkin sudah jenuli dengan karya sejenis terjemahan,” kata Ahmad Taufiq(Ruang Baca Edisi 45, Koran Tempo, Desember 2007)

Kata orang, penulis buku itu konon ada dua jenis saja. Yang satu menulis untuk dinikmati banyak sekali pembaca. Satunya lagi menulis untuk kenikmatan sendiri. Mereka yang tergolong penulis jenis pertama, jelas beruntung secara lahir dan batin. Selain bisa menikmati sendiri karyanya, ia juga memberi kesenangan yang sama pada banyak pembacanya.

Di Indonesia, penulis buku terus bertumbuh, namun yang cukup ber¬untung mengecap manisnya buku laris, sedikit saja. Sebagaimana diungkapkan Richard Oh, pemilik jaringan toko buku QB, “sudah bisa melepaskan diri dari kutukan 3000 eksemplar .saja rasanya sudah lega.”

Buku laris karena berbagai pendukung. Seorang teman, Ahmad Taufiq dari Ufuk Press, menyatakan setidaknya ada tiga faktor yang bisa membuat sebuah judul laku. Adanya references group, ini bisa terdiri dari kelompok-kelompok pembaca, penggiat milis dan tentu saja kritikus bu¬ku profesional. Lalu ada faktor word of mouth yang raembuat buku jadi bahan pembicaraan sebelum orang benar-benar tahu apa isinya. Ketiga, ada {sedikit sekali, sayangnya) buku yang cukup beruntung “menghan-tam” pembacanya saat pertama kali beredar
.
Dalam dunia penerbitan, buku la¬ris ditandai besar-besar dengan istilah best-seller. Masuk ke dalam daftarnya menjadi salah satu hajat pa¬ling besar penerbit dan penulis. Istilah best-seller sebenarnya baru benar-benar terjadi di dunia perbukuan saat Motinggo Boesje berhasil menelurkan karya fiksi yang habis dilahap pasar dalam waktu sckejap. Untuk liitungan era 1960-an, sekali cetak 2000 hingga 3000 kopi itu adalah ukuran luar biasa. Setelah itu, rckor Boesje baru bisa disamai oleh Marga T dan Ashadi Siregar.

Puluhan tahun setelah itu, tidak banyak perubahan yang terjadi jika dilihat dari angka penjualan sebuah buku. Yang tcrmasuk fenomenal barangkali hanya novel Ayat-Ayat Cin-ta karya Habiburrahman El Shirazy yang sudah melebihi angka 100 ribu eksemplar sejak diterbitkan sekitar tiga tahun silam. Atau fiksi teenlit lokal Fairish karya Esti Kinasih yang rata-rata tcrjual 1000 kopi per bulan pada 2005 atau Dealova karya Dian Nuranindya yang menguntit tidak ja-uh di bawahnya.

Tahun ini, tidak ada lonjakan berarti dalam daftar buku best-seller In¬donesia. Fiksi masih menjadi primadona di tongah pembaca. Puncak perhatian masih tertumpu pada Edensor, tetralogi ketiga Laskar Pelangi karya Andrea Hirata.Menurut data Mizan Pustaka yang menerbitkan tetralogi ini, novel yang ditulis
anak kampung pedalaman Melayu di Pulau Belitong tni sudah mencapai angka 25 ribu kopi. “Itu sejak diter¬bitkan pada September 2007,” kata Pangestuningsih, Communication Relation penerbit Mizan Pustaka.

Sebuah buku, kata Pangestuning¬sih, masuk hitungan best-seller jika tcrjual lebih dari seribu eksemplar sebulan. Jika kriteria itu yang dipakai, berarti dari sekian banyak buku asli Indonesia terbitan penerbit yang bermarkas di Bandung ini, hanya Edensor dan sebuah lagi buku non¬fiksi karya Asma Nadia, Catatan Hati Seorang Istri —yang terjual sekitar 21.000 eksemplar sejak terbit pada Mei 2007— yang masuk daftar best¬seller.

Bandingkan pula dengan penerbit besar sekelas Gramedia Pustaka Utama (GPU) yang menerbitkan ratusan judul buku tahun ini. Menurut Donna Widjajanto, Editor Fiksi GPU, di antara karya lokal terbitan mereka, me-mang tidak ada yang benar-benar fe¬nomenal.

Fiksi renyah teenlit masih menjadi primadona GPU. Sayangnya, tidak ada yang menyamai gebrakan Fai¬rish. Yang tertinggi, A Little White Lie, karya Titish A. K yang terbit pada Maret 2007, tcrjual .sekitar 15.777 eksemplar dan masuk cetakan kcempat. Bclasan judul teenlit yang masuk daftar best-seller GPU hanya bercokol di angka 7.000-an hingga 11.000-an dengan dua tiga kali cetak ulang dalam hitungan waktu enam-empat bulan setelah diterbitkan pertama kali.

Uniknya, menurut Donna, pemba¬ca tcrnyata lebih memilih teenlit bikinan lokal kctimbang terjemahan GPU yang juga tidak sedikit jumlahnya. “Angka penjualannya lebih tinggi,” katanya. Menurut Donna, faktor kedekatan pembaca dengan tema yang disajikan teenlit bikinan penulis lokal menjadi pendukung lakunya satu karya. “Mungkin karena lebih dekat dengan persoalan remaja Indonesia pada umumnya,” kata Donna.

Untuk buku nonfiksi juga tidak ada perkembangan yang menakjubkan. Pergerakannya juga tidak selincah karya fiksi. Buku-buku bisnis, self-help dan haw-to yang praktis dan mencerahkan, masih menjadi pilihan banyak orang. Nama Rhenald Kasali rupanya masih menjadi jaminan bu¬ku laris. Menurut Siti Grctiana, Edi¬torial and Product Manager Nonfiksi GPU, buku terbitan Januari 2007 Re-Code Your Change DNA karya kon-sultan terkenal itu terjual sekitar 50.000 eks.

Buku-buku bisnis lainnya yang mengupas kisah sukses orang Tionghoa ikut menuai sukses. Di antara-nya ada 50 Chinese Wisdoms karya Lernan yang terjual 30.000 eksemplar sejak diterbitkan pada Desember ta¬hun .silam. Yang agak uriik adalahnya kamus Tesaurus Indonesia, yang ditulis Eko Endarmoko yang terjual hingga 3.000 eksemplar sejak terbit pada Desember 2006.

Mizan sebalilmya tidak mencatat adanya buku nonfiksi yang masuk daftar best-seller. “Yang ada baru nyaris best-seller,” kata Pangestu¬ningsih. Di dalam daftar “nyaris beat-seller” itu, ada 168 Jam Dalam San-dera (Meutya Hafidz, Oktober 2007), Lerjual 1900 hingga November. Ba¬ru cetak sekali dengan rata-rata pen¬jualan 950 cks., perbulan,

Buku serius Jalaluddin Rakhmat, Tfie Road to Allah yang terbit pada Oktober tahun ini juga hampir best¬seller karena terjual sebanyak 2400 hingga bulan silam. Ada pula karya Hernowo, Aku Ingin Bunuh Harry Potter yang terbit pada Juli 2007), terjual 3600 eks atau sekitar 900 eks., per bulan. Ini jelas terbantu karena faktor pcredaran novel Harry Potter.

Yang menarik adalah munculnya bukan penerbit utama dalam jajaran daftar best-seller nonfiksi. Ui’uk Press, penerbit yang selama ini lebih banyak meluncurkan karya-karya terjemahan, mencatat sukses lewat Rahasia di Balik Penggalian Al-Aqsha karya Abu Aiman. Sejak terbit pertama kali pada September 2007. buku ini sudah cetak ulang tiga kali. “Tcmanya tepat waktu dan orang mungkin sudah jenuli dengan karya sejenis terjemahan,” kata Ahmad Taufiq.

Betapa pun sedikitnya jumlah bu¬ku yang beruntung masuk best-seller, bandingkan dengan patokan standar versi The New York Times, yang mensurvei ratusan ribu toko buku dan mensyaratkan .sedikitnya 70.000 kopi terjual dalam sekejap mata, belasan dan sedikit puluhan ribu yang terjual itu membuat dada sedikit lapang. Meski memang tidak mencerminkan sepenuhnya selera buku lokal peni-baca kita. Setidaknya, sebagaimana kata M, Chatib Basri, pengamat ekonomi yang sangat rnencintai buku, “melegakan melihat toko buku yang ramai, meski harga buku masih terhitung mahal.”

(Sumber: KORAN TEMPO melalui http://ufukpress.blogspot.com)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s