Don’t Worry Be Happy, Media Cetak Masih Tangguh Berdiri

Membincangkan permasalahan multimedia yang menjadi nama rubrik halaman ini, selayaknya juga harus membicarakan media lain di mana karakter isinya menjadi bagian dari dunia multimedia. Salah satu yang menarik adalah mengkaji posisi surat kabar di tengah arus informasi dari media-media baru berbahasa digital.

Visi Nicholas Negroponte dan Alvin Toffler kerap terlintas di pikiran kita jika kita melihat kecenderungan Internet dewasa ini. Pasalnya, visi mereka internet sebagai media baru (new media) saat ini menjadi konkret apa adanya, jauh sebelum kedua pakar ini menelurkan pemikiran ini, masyarakat awam tidak pernah menyangka internet menjadi media komunikasi yang sangat kaya isinya. Khasanah multimedia yang dulu permah direkatkan pada surat kabar, karena memuat teks dan gambar yang berwarna, kini interner jauh lebih baik dan hidup! Tentu juga dengan melihat daya jangkaunya yang menembus batas negara dan benua, internet memang benar-benar memenuhi kebutuhan manusia akan lesatan informasi yang lengkap dan maha luas lingkupnya. Meski harus disadari bahwa di negeri sendiri penetrasinya di daerah lambat bergerak.

Apa yang menjadi kecenderungan kontemporer adalah bergeraknya beberapa suratkabar nasional besar ke dalam dunia maya secara total. Total dalam konteks ini adalah versi cetak sebuah surat kabar, juga dapat dinikmati versi digitalnya pada hari yang sama. Bahkan tidak sedikit perusahaan surat kabar mendirikan perusahaan berbeda, khusus untuk menangani berita-berita di dunia maya ini. Ini tidak terjadi 10 tahun yang lalu, di mana sebuah surat kabar yang memiliki situs hanya sekadar memindahkan sebagian isi berita versi cetaknya ke internet. Internet juga menggantikan peran bergeraknya silinder mesin cetak, kertas dan tinta, gerai termasuk lopernya. Demikian internet menggantikan antena televisi dan radio.

Dalam dunia surat kabar, faktor utama yang membuat ini terjadi tak lain tak bukan karena harga kertas koran yang melonjak tinggi. Dan ini terjadi setiap bulan. Biaya produksi yang tinggi dan dipaksakan untuk sebuah penerbitan, tentulah riskan. Sebuah surat kabar nasional selama lebih dari dua tahun belakangan ini kerapa mendengungkan keseriusannya masuk secara total ke dunia maya. Ada dua tafsiran dalam hal ini, pertama perihal produksi versi cetak yang mahal untuk itu perlu dikonversi ke versi digital, sehingga biaya bisa jauh lebih murah. Kedua, sebuah pencitraan positif terhadap perusahaan yang selalu mengikuti kemajuan dan perkembangan teknologi.

Namun apapun alasannya, di masa depan surat kabar versi cetak sulit dipertahankan keberadaannya, jika sebuah perusahaan tersebut tidak memiliki kapital super-besar, keahlian menjual ruang iklan yang ‘gila’, berusaha beradaptasi dan menyadari penuh kelebihan-kelebihan media cetak ini dengan internet. Maka, di saat yang sama perusahaan penerbitan sama-sama melihat internet adalah sebuah solusi, dengan optimisme penetrasi internet di daerah sama masifnya dengan konsumsi telepon selular, dan tentu saja budaya membaca melalui internet yang semakin kental. Bagi perusahaan penerbitan ingin terjun total ke internet, kondisi ini justru juga riskan. Sebab, tidak semua masyarakat siap membaca berita-berita tanpa merasakan tekstur kertas di telapak tangan mereka. Kita masyarakat masih merasa nyaman mengkonsumsi informasi dengan media kertas. Karakter portabilitas koran masih mengalahkan akses internet, meski melalui ponsel juga masih bisa diakses. Tetapi ponsel juga kini digunakan sebatas untuk mengirim SMS dan komunikasi suara.

Laporan teranyar World Association Newspaper (wan-press.org) mengungkapkan terdapat perubahan signifikan dari berbagai media baru saat ini yang mengurangi kue iklan ke media tradisional, khususnya surat kabar. WAN mencatat pemasukan iklan digital dan bergerak (mobile) di seluruh dunia diproyeksikan tumbuh hingga 150 milyar dolar di tahun 2011. Sedangkan pertumbuhan permintaan terhadap akses internet pita lebar (broadband) diperkirakan tumbuh 540 juta pelanggan pada tahun 2011. Dan saat ini jumlah pengguna ponsel hampir mencapai angka 3 miliar. Di tahun 2006 saja sudah mencapai 2,6 miliar pengguna.

Menurut Presiden WAN, Gavin O’Reilly nilai industri surat kabar secara global bertengger di angka US$ 190 miliar dengan jumlah pembaca mencapai 1,5 miliar jiwa. Dengan angka tersebut O’Reilly ditegaskan bahwa industri surat kabar selama ini lebih terpercaya dengan jumlah pembaca yang relatif stabil.

Ini juga mengarah pada permasalahan metamorfosis sebuah media. Pakar teknologi komunikasi dan media, Roger Fidler mengistilahkan ini sebagai medimorfosis. Roger Fidler menyebutkan, siklus hidup media serupa dengan siklus hidup makhluk hidup di mana secara genetis sifat-sifat terdahulu diturunkan ke generasi berikutnya. Secara konkret dalam teknologi komunikasi, produk yang baru tidak serta merta meninggalkan karakter asal teknologi yang lama. Dan teknologi yang lama juga tidak langsung punah. Teknologi yang lama akan secara alami dan dorongan banyak aspek akan bertahan hidup (survival) dengan beragam caranya sendiri. Tanpa mencari cara terbaik dan strategis teknologi lambat tapi pasti akan punah, atau setidaknya langka dan kita menemukannya menjadi koleksi museum atau pribadi. Ini terjadi pada transisi dari surat kabar ke radio dan dari radio ke televisi. Ketika radio pertama kali mengudara secara komersil sekitar tahun 1922-an di Amerika Serikat muncul kesan media baru ini sebagai ancaman serius bagi keberadaan surat kabar yang telah lama hadir sejak abad ke-14.

Demikian juga ketika televisi hadir di tahun 1928 di negara yang sama, pengelola radio mengeluh dengan cara yang serupa. Betapa tidak, secara akal sehat mengacu pada karakter alamiah manusia, tentu lebih menyenangkan menonton televisi yang bersuara dan bergambar, daripada radio. Buktinya sekarang radio siaran tidak ditinggalkan, bahkan surat kabar masih banyak yang bertahan.

Dan bahkan saat ini ketika perhelatan pilkada di Nusantara, kue iklan-iklan politik lebih banyak masuk ke media cetak, daripada televisi. Penyebabnya adalah tarif iklan lebih murah dan masih banyak dibaca, khususnya di daerah pelosok yang belum teraliri listrik. Selama televisi tidak bisa menghilangkan karakter “lewat sekilas”-nya itu, iklan-iklan jarang nongkrong lama di ingatan masyrakat. Ini berbeda dengan media cetak yang bisa dilihat berkali-kali.

Karakter teknologi komunikasi yang didorong oleh perkembangan bahasa komunikasi manusia memang labil. Sebab, bahasa secara alami sangat dinamis dan bergerak yang ke arah yang lebih baik, cepat, masif, praktis dan murah.

Kini dalam lompatan sejarah komunikasi manusia, kita telah berada dalam tahapan sejarah bahasa digital. Setiap informasi kini dihitung dalam satuan bit data. Hitungan satuan atom, seperti pada kertas mulai direduksi. Informasi yang banyak dan beragam di internet semuanya bersatuan bit data.

Bagi saya, kejayaan internet berperan setara dengan suratkabar dan televisi masih membutuhkan waktu yang lama. Walaupun percepatan teknologi yang menjadi fondasinya dikatakan sebagai sebuah revolusi, ada banyak variabel lainnya yang mempengaruhi. Misalnya, ya itu tadi, harga produk teknologi, kenyamanan dan kemudahan, lalu dengan meminjam konsep pakar komunikasi, Everett M Rogers sistem sosial, kesesuaian, keterpercayaan dan kelaziman.

Misalnya suratkabar, tidaklah serta merta runtuh dengan kehadiran media baru hanya karena ia lebih canggih. Tetapi tidak ada yang bisa mengalahkan kenyamanan membaca berita ketimbang suratkabar. Internet belum bisa secara lazim menawarkan kemudahan membaca berita sambil tiduran dan merasakan dengan jemari tangan tekstur kertasnya. Friendster dan Myspace juga tidak akan pernah bisa (mungkin belum) memungkinkan penggunanya berinteraksi tanpa kehadiran komputer yang harus hadir di atas meja memangku laptop. Singkat kata, selalu saja ada hal lain yang tidak bisa digantikan oleh teknologi baru terhadap teknologi lama. Itulah yang membuat teknologi lama tetap bertahan sembari terus menghadirkan inovasi dan karakter istimewanya.

Maka bagi media cetak yang sedang bertumbuh dan hendak berdiri tentulah masih ada ceruk pasar yang bisa didatangi dan mengambil profit di sana. Internet bukanlah ancaman serius bagi keberadaan surat kabar saat ini. Yang perlu dilakukan adalah mencari cara masuknya dan bertahan di sana. Kalaupun saat ini menangani media online sebaiknya jadikan itu sebagai pendampingnya. Atau meminjam kalimat kolomnis pcmag.com John C. Dvorak: When any new medium comes along, the old media have to adapt. Benar, ketika medium baru hadir, media lama sebaiknya beradaptasi. Dalam hal ini John C. Dvorak menawarkan cara bertahannya, yaitu surat kabar diharuskan membuat berita yang yang tidak bisa dibuat surat kabar online atau mengikuti pola berita online, yaitu aspek kecepatan dan efisien ketika pembaca membaca berita. Demikian juga majalah yang bisa bermain di berita-berita feature dan diperkaya dengan infografis. Singkat kata, jelas Dvorak, kehadiran internet sebagai media hanyalah perubahan mekanisme distribusi pesan.

Maka yang terjadi ke depan adalah objek formal internet yang multimedia, menjadi satu subjek dalam konteks sistem informasi dunia. Ia memang tampak berbeda dengan surat kabar dan media-media tradisional lainnya dengan karakternya masing-masing untuk bertahan. (Vinsensius Sitepu)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s