Yasraf Amir Pilliang

Pemikiran Posmodernisme mengalami perkembangan pesat terutama di Barat pada medio 1980 dan 1990-an. Pemikiran ini tak lepas dari sumbangan pemikiran para pemikir kritis yang meletakkan fondasi berpikir dari Marx. Indonesia juga ternyata memiliki orang yang sangat peduli dan bisa dikatakan “maestro”-nya posmodernisme. Dia adalah Yasraf Amir Pilliang. Pilliang lahir di Maninjau, Sumatera Barat pada 30 September 1956. Ia menamatkan studi S-1 di Departemen Seni Rupa, Institut Teknologi Bandung (ITB) pada tahun 1984. Di saat bersamaan Piliang ditawarkan menjadi dosen di almamaternya.

Pada tahun 1990, atas beasiswa dari The British Council, Piliang menempuh gelar masternya di bidang Industrial Design di Saint Martins College of Art & Design, London. Akan tetapi dalam studinya itu, Pilliang mengalami euforia kebebasaan akademik suasana kota London. Hal ini akhinya membuka visi kritisismenya, ditambah lagi dengan lingkungan akademik kampus tersebut yang beragam latar belakang pengajar–mulai dari feminimisme, marxis, strukturalis, postrukturalis–serta semangat posmodernisme yang gegap gempita. Inggris telah menyeret Pilliang ke dunia pemikiran sosial dan kebudayaan kontemporer. Pada akhir studi, Pilliang mengambil tesis yang berjudul Decoding Postmodern Style, di bawah bimbingan Lorraine Gamman, seorang feminis dan Jane Grave seorang psikoanalis.

Setelah menyelesaikan studinya dengan gelar Master of Art, Piliang kembali ke Indonesia. Di ITB dia ditugaskan untuk mengajar di Program Pascasarjana Seni dan Desain, untuk subjek mata kuliah baru yang bertema Studi Kebudayaan.
Suatu kali Pilliang pernah mendapat surat dari Lorraine Gamaan, mantan pembimbingnya. Pada bagian surat itu tertulis, “Setelah saya renungkan dan saya pikir-pikir sekian lama, saya berkesimpulan, bahwa ternyata Anda lebih memahami posmodernisme daripada saya.” Kata-kata tersebut menyentak Piliang.

Bukan pujian yang menyentaknya, melainkan cara pujian tersebut disampaikan. Seakan tak percaya Pilliang berpikir bahwa kata pujian  tersebut lebih tepat disebut sebagai kata mutiara, yang di baliknya berkisah banyak hal tentang apa yang disebut kejujuran ilmiah, kebebasan ilmiah dan demokrasi kampus. Sebaliknya, kata tersebut seakan-akan sebuah parodi terhadap iklim akademis di Indonesia, yang masih sesak dengan hambatan birokrasi, egoisme, arogansi ilmiah dan budaya paternalistik.

Pilliang, selain pemikir posmodernisme juga seorang penulis yang produktif. Beberapa bukunya yang ditulis bahkan mendapatkan sambutan luas khususnya di kalangan peminat studi kebudayaan, seperti Sebuah Dunia yang Dilipat hingga Sebuah Dunia yang Menakutkan. (febry)

Iklan

2 pemikiran pada “Yasraf Amir Pilliang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s