Quo Vadis Social Networking Site?

Oleh: Vinsensius Sitepu

Social Networking Site dirasakan semakin jenuh seiring semakin banyaknya perusahaan yang mendirikan situs web yang sejenis. Tidak sedikit juga perusahaan media dan perusahaan teknologi informasi komunikasi (TIK) kelas dunia ramai-ramai mengakuisisi jenis situs yang paling cepat mendatangkan uang ini. Fasilitas dan layanan juga tidak jauh berbeda seperti situs yang lain mengikuti ketenaran Myspace ataupun Friendster. Apakah karakter fleksibilitas, selain interaktivitas yang dibutuhkan pengguna saat ini? Ataukah kematian mendekatinya ketika blog lebih informatif?

Interaktivitas adalah sifat dasar yang harus dimiliki oleh sebuah teknologi media jika ia ingin dilabelkan sebagai multimedia. Pada dasarnya karakter multimedia yang kita nikmati saat ini adalah warisan nenek moyang kita, ketika mereka belum mengenal bahasa terstruktur lewat tulisan. Masa bahasa ekspresif dan bahasa lisan sekitar 100 ribu-40 ribu tahun yang lalu sesungguhnya sudah menerapkan karakter multimedia dalam wujud yang lebih sederhana.

Misalnya pemimpin sebuah suku menceritakan secara lisan mitos komunitas mereka yang diiringi nyanyian para biduan dan lantunan musik tradisional. Mereka melakukan itu sebagai sebuah ritual.

Dan hal tersebut tidak berbeda dengan yang kita lakukan saat ini. Kita semakin terbiasa membaca berita online sembari mendengarkan suara dari video streaming Youtube. Atau mendengarkan Microsoft Reader membacakan e-book ke dalam telinga Anda, ketika Anda mengolahnya untuk sebuah artikel di blog pribadi Anda. Menukik dalam konteks ekonomi, kini multimedia menjadi mesin uang dahsyat, sama hal seperti televisi, radio dan surat kabar yang semakin tergerus kue iklannya oleh internet. Karena multimedia menawarkan banyak kebutuhan dalam bentuk pesan yang beragam yang dapat dinikmati sekaligus dan interaktif mencapai banyak orang dan tempat.

Faedah Ekonomi dan Politik
Fenomena yang paling kontemporer dua tahun belakangan ini adalah social networking site. Karakter interaktivitas dan model multimedia kental dalam jenis situs seperti ini. Selain teks dan gambar diam, ratusan juta penduduk dunia terkonvergen dalam media animasi dan video.

Karakter bisnis yang menggiurkan membuat investasi di bidang ini sangat tinggi. Setelah fenomena Youtube dengan video sharing site, kemudian Friendster, Facebook dan MySpace, 2 Maret lalu perusahaan Silicon Valley kelas berat, Cisco System, membeli Tribe.net. Di antara situs lain yang sekelas Tribe.net sebenarnya tidak banyak dibicarakan orang alias tidak terlalu populer. Nytimes.com tidak secara detail menjelaskan berapa Cisco System membeli perusahaan kecil yang dikelola oleh 8 orang itu. Sungguh mereka sadar, sangat banyak orang kini menghabiskan waktu mereka berperan sebagai warga dalam komunitas sosial maya. Bukankah ini peluang pasar? Nytimes.com menyebut ini sebagai upaya menjadi perusahaan berorientasi konsumen (consumer-oriented company). Rupert Murdoch pemilik MySpace sendiri pernah memproyeksikan dari perusahannya menghasilkan uang 25 juta dolar setiap bulan dengan peningkatan 30 persen setiap kuartal (Donna Bogatin dari ZDNet).

[ image disabled ] Selain menguntungkan secara ekonomi, situs ini efektif sebagai media kampanye dan penggalangan massa. Barack Obama misalnya merasa perlu membuat situs berkarakter social networking site. Barack Obama menerbitkan http://my.barackobama.com untuk mendapatkan perhatian publik lebih luas, tidak hanya dari publik dalam negeri AS, tetapi masyarakat dunia. Sebagai media kampanye tentu saja situs ini menampilkan profil Obama dan istrinya Michelle lengkap dengan konten foto dan video, visi dan misi serta serangkaian warta teraktual yang dilansir dari beberapa media. Blog juga ada!

Dan adalah hal yang wajar kalau Friendster ataupun situs sekelas lainnya berkibar sebagai mesin uang. Padahal mereka hanya mengandalkan warisan kuno kita, komunikasi yang interaktif. Bahasa digital sebagai tahapan mediamorfosis terbesar ketiga mewujudkan itu ketika bersatupadu dengan internet. Internet ditambah keinginan kita berkomunikasi secara interaktif genap, karena internet menjangkau lawan komunikasi secara massal, luas, masif, cepat, bahkan realtime. Menjangkau tujuh benua hanya melaui klik mouse, Social Networking Site bernilai investasi miliaran dolar dengan jumlah anggota puluhan juta orang serta jutaan pengunjung yang memiliki minat yang sama setiap harinya. Karakter seperti ini sama seperti perintis layanan online, yakni America Online, Prodigy dan CompuServe.

Galakkan fleksibilitas dan informasi
Bebeberapa pengamat multimedia mengungkapkan karakter Friendster dan beberapa Social Networking Site memang sangat mengagumkan. Tidak dari sisi bisnis dan teknologi tetapi juga dampak sosial dan politisnya sangat besar. Namun demikian, harus diakui lama kelamaan situs tersebut menempatkan pengguna tidak sebebas karakter alami seorang manusia. Ada batasan mana yang bisa dan tidak bisa dilakukan. Padahal fleksibilitas memungkinkan pengguna menciptakan dan mendesain dunianya sendiri. Demikian yang disampaikan Andreessen saat memperkenalkan Ning.com di awal tahun ini. Ning.com adalah situs yang memungkinkan membuat Social Networking Site Anda sendiri. Dengan kata lain Anda bisa membuat Friendster Anda sendiri.

Menurut Roger Fidler dalam Mediamorfosis, dunia multimedia kapasitas untuk secara serentak memproses berbagai informasi dalam berbagai bentuk tampaknya akan semakin membesar dalam setiap generasi baru. Sebaliknya kesabaran dan jangka waktu perhatian dan konsumsi akan semakin berkurang. Artinya dalam kasus Social Networking Site akan muncul kejenuhan ketika sudah semakin banyak situs sejenis yang pada dasarnya serupa. Tidak ada kesanggupan pengelola untuk memberikan perbedaan layanan dan fasilitas yang signifikan. Ini jika kita berasumsi pada kebutuhan alami pengguna internet terhadap fleksibilitas sebuah layanan.

Bahkan Molly Wood editor CNET.com dengan kritis menyatakan: “There is nothing to do in Social Networking Site.” Memang benar kebanyakan pengguna Social Networking Site melakukan percakapan kecil dan remeh temeh. Friendster dan Orkut misalnya, walaupun berkarakter interaktif kontennya tidak cukup informatif kalau dibandingkan dengan blog, citizen journalism dan situs berita online.

Hal di atas jelas sebuah tuntutan dan kebutuhan. Peningkatan interaktivitas, fleksibilitas dan lebih informatif adalah tugas inovator dan perusahaan kapitalis. Sedangkan pengguna hendaknya menjaga sikap kritis, tidak menjadi arca pasif yang konsumtif. Harus diakui social networking site adalah peluang ekonomi, di samping memenuhi kebutuhan berkomunikasi yang berkualitas. Kita tunggu saja sampai di mana kemajuan social networking site. Quo vadis social networking site.

(Penulis adalah penggemar teknologi informasi komunikasi, tinggal di Medan. Email penulis: vinsensius_stp[@]yahoo.co.id)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s