Menakar Bisnis TV Lokal di Medan

 

deli-tv.jpg

Semangat Undang-undang Nomor 32 Tahun 2002 Tentang Penyiaran menghendaki dunia penyiaran di Indonesia tampil dengan paradigma baru. Jika sebelumnya sistem penyiaran kita dikendalikan dari Jakarta baik modal, teknologi, dan sumberdaya manusia, maka ke depan daerah di luar Pulau Jawa harus diberikan porsi yang sama untuk bisa maju dan berkembang. Pemikiran ini bertitiktolak dari kemauan politik (political will) bahwa ranah penyiaran, baik radio dan televisi, tidak boleh didominasi oleh pusat.

Bukan cuma itu, undang-undang ini menghendaki adanya spektrum keanekaragaman isi (content), gaya (style), dan nuansa informasi dan hiburan yang variatif seperti setting sosial budaya kita yang plural. Itu berarti tidak akan ada lagi dominasi budaya penyiaran ala Jakarta, termasuk pola jurnalisme, ragam periklanan dan gaya bertutur yang serba seragam dan tunggal. Perbedaan dan keanekaragaman budaya yang ada di Indonesia dengan demikian benar-benar menjadi perwujudan zamrud khatulistiwa!

Coba saja perhatikan gaya para penyiar radio dan televisi di Medan dan daerah lain di Sumatera Utara semua berlogat “Jakarte” dan juga tuturan budaya Jawa. Padahal orang Medan  memiliki karakter logat atau dialek dan cara bertuturnya yang khas. Ada kesan jika seorang penyiar radio dan televisi ketika bersiaran berlogat Medan dianggap tak maju atau terasa janggal di telinga. Inilah salah satu dampak adanya dominasi budaya yang telah menerpa dunia penyiaran kita selama puluhan tahun. Pemerintah, dalam hal ini Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo), telah mematok tanggal 27 Desember 2007 sebagai batas akhir diperbolehkannya televisi swasta beroperasi secara nasional di Indonesia. Persoalannya sekarang, apakah pemain televisi lokal di Medan sudah siap menyahuti semangat undang-undang penyiaran tersebut? Bagaimanakah peta kesiapan modal, teknologi, manusia, dan potensi bisnisnya? Reporter Dictum Liston Aqurat, M.Arif BSP Lubis, dan fotografer Haryadi Dwi Putera Hasman, melaporkan dari lapangan dan dirangkum oleh Syafruddin Pohan berikut ini.

Gemas, cemas
Peluang yang diberikan negara berupa pemberian frekuensi dan izin siaran tak disia-siakan oleh stasiun televisi lokal pertama di Medan, Deli TV. Meski belum tahu benar rimba bisnis pertelevisian, sebagaimana diutarakan pemodal utamanya, Fauzi Rangkuti, nekat mendirikan Deli TV pada 28 Desember 2005. Dengan berslogan “Deli TV Mantap,” Rangkuti yang pensiunan kolonel ini bersama pemilik saham lainnya mengusung visi Deli TV sebagai medium pembawa informasi lokal yang cepat dan terpercaya serta menyajikan program hiburan bermutu di ruang keluarga.

Para penggagasnya serasa gemas, dalam kalkulasi di atas kertas kota Medan sebagai kota metropolitan menyimpan potensi yang besar baik dari jumlah populasi sekitar 2,3 juta orang dan potensi ekonomi yang prospektif. “Buktinya kami masih bertahan, malahan tayangan semacam Tangkis dan D’News memiliki rating di atas 10,” ujarnya mantap.
Rating dimaksud adalah suatu patokan (benchmark) untuk mengetahui popularitas program televisi yang dikeluarkan lembaga pemeringkatan semacam AC Nielsen dengan melakukan survei  khalayak secara periodik di kota-kota besar di Indonesia, termasuk  Medan. Bagi kalangan pemasang iklan (advertiser), rating menjadi rujukan utama untuk mengiklankan suatu produk. Sebagai ilustrasi, suatu program memliki rating 10, itu kira-kira bermakna secara agregat ada sekitar 10 persen pemirsa menonton suatu acara pada waktu yang sama di mana ada sejumlah acara yang ditayangkan oleh stasiun televisi yang lain. Angka rating 5 bagi pemasang iklan seringkali dipakai sebagai batas minimal untuk memasang iklan.

Pandangan dan perasaan gemas juga datang dari kalangan rumah produksi (production house) Imagen. Dihubungi via telepon di sela-sela pembuatan video profile produk bibit tanaman, Rendra, yang juga bertindak sebagai penulis naskah (script writer). Kota Medan dan daerah Sumatera Utara pada umumnya menyimpan potensi yang menjanjikan. “Selain banyak panorama yang bagus untuk lokasi shooting, Medan terkenal dengan segudang artis yang berbakat dan bahkan banyak sekali artis asal Medan yang sukses di Jakarta,” katanya dengan nada meyakinkan.

Perusahaan tempatnya bekerja masih terbilang baru sebagai pemasok materi acara televisi dan periklanan, yakni baru sekitar empat bulan memasuki pasar di Medan. Dengan berkekuatan tenaga profesional sebanyak lima orang yang didatangkan dari Jakarta, Imagen yang dipimpin seorang sutradara senior Syamsul B. Adnan, sejauh ini telah memasok sejumlah materi iklan  televisi ke Deli TV dan TVRI Sumut. Untuk lebih memantapkan posisi bisnisnya di Medan, Imagen juga menyelenggarakan sekolah modelling, acting, dan penyelenggara kegiatan (event organizer).  Menurut Rendra lagi, industri penyiaran televisi suatu daerah jika ingin maju, harus ditopang dengan keberadaan sejumlah rumah produksi. Kegiatan rumah produksi senantiasa harus didukung sektor industri hilir semacam sekolah acting dan modelling dan juga industri hulu berupa produksi materi acara, produk iklan, dan lainnya.

Meski Deli TV telah mampu memproduksi 50% siaran lokal yang ditayangkannya, pengopersian stasiun penyiaran yang mengudara di jalur 45 UHF ini tak luput dari perasaan cemas. Pasalnya menurut Chairman, SE, salah satu Direktur Deli TV, pemerintah (Depkominfo) dan Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dinilainya sering tidak konsisten menjalankan Undang-undang Penyiaran. “Salah satunya mengenai interferensi frekuensi. Frekuensi kami pernah berimpitan dengan siaran TV 3 Malaysia, sehingga siaran kami mengalami gangguan,” ujarnya lirih. Padahal, terangnya lagi, frekuensi adalah sumberdaya alam berupa gelombang elektromagnetik yang merambat di udara yang sangat terbatas dan  karena itu negara sudah seharusnya menjaga kedaulatannya di udara.

Hal yang agak mencemaskan bagi Rendra untuk mendinamisasi industri pertelevisian di Medan misalnya soal ketergantungan peralatan dan SDM yang masih banyak didatangkan dari Jakarta. “Selama ini dunia penyiaran sangat bersifat Jakarta-sentris. Karena itu perlu ada transformasi keterampilan tenaga-tenaga teknis dan kreatif  untuk sumberdaya lokal,” imbuhnya.

Untung, buntung
Pengelola bisnis tv lokal, kalau mau tetap eksis, tidak bisa lain harus memiliki strategi bisnis yang tepat. Sebab bisnis di bidang ini selain padat modal juga padat karya. “Kami menerapkan strategi tarif iklan murah. Misalnya iklan berdurasi 30 detik cukup membayar antara Rp. 100 ribu hingga Rp. 300 ribu/spot. Harga sebesar itu masih kami beri bonus seperti iklan running text,” kata Chairman berpromosi. Strategi lainnya adalah menggandeng Vision One guna menyelenggarakan siaran langsung sepakbola Liga Jerman (Bundesliga-red.) dengan sistem bagi hasil siaran iklan. Sejak beroperasi hampir dua tahun lamanya, Deli TV mengakui kondisi keuangannya belum bisa meraup keuntungan alias masih diinjeksi dengan subsidi.

Sementara itu penggiat showbiz dan event organizer Erwin dari perusahaaan Kampusi Promo masih pesimis terhadap eksistensi tv lokal. Ayah tiga puteri yang sukses mementaskan pertunjukan teater di hotel berbintang di Medan dengan judul Mentang-Mentang dari New York ini menilai keberadaan tv lokal masih dibayang-bayangi keperkasaan televisi nasional dari Jakarta. “Kalau saya lihat, selama siaran nasional masih ada, pasti kita kalah bersaing,” tegas berempati. Lelaki periang yang suka berbicara spontan ini, namun demikian, menilai masih ada kegairahan para pemain tv lokal di Medan antara lain dengan semakin banyaknya muncul televisi swasta di Medan seperti DAAI TV, dan Spacetoon TV Anak Medan. “Mudah-mudahan persaingan yang ada  justru akan memacu kreativitas,” ujarnya berandai-andai.

Pandangan bayang-bayang kesuraman tv swasta di Medan justru datang dari Kadry Rasyid, salah seorang anggota Komisi Penyiaran Indonesia Daerah (KPID) Sumatera Utara. “Membuat lembaga penyiaran televisi itu bukan perkara mudah. Diperlukan dana yang sangat besar dan SDM yang ahli di bidang penyiaran,” katanya via handphone. Menyusul semakin banyaknya investor yang ingin menanam modalnya pada sektor pertelevisian swasta di Medan, Kadry menganalogikan kanal siaran televisi seperti lahan parkir yang sangat terbatas. “Kalau sudah penuh, apa kita masih akan memasukkan kendaraan ke lahan parkir?” katanya dengan nada tanya. Walaupun begitu, lelaki yang berpenampilan necis ini menegaskan bahwa KPID Sumut tetap melayani jika ada pihak-pihak yang akan membangun siaran televisi di Sumatera Utara seperti lembaga penyiaran komunitas (televisi komunitas), dan lembaga penyiaran televisi berbayar (pay tv) semacam jaringan televisi kabel.

Menyoal makna penting akan kehadiran televisi swasta di Medan, Dimas, mahasiswa Ilmu Komunikasi FISIP USU ini agaknya lebih substansial. “Aspek proksimitas (kedekatan ,red) masyarakat Medan dengan berita yang terjadi di  sekitarnya sudah pasti menjadi keunggulan siaran lokal yang tidak bisa ditandingi tv nasional,” ungkap mahasiswa angkatan 2004 ini. Dimas, yang baru saja menyelesaikan Praktik Kerja Lapangan (PKL) di salah satu tv swasta di Medan  juga berpendapat televisi lokal di Medan sejatinya tidak perlu ikut-ikutan dengan konsep yang ada selama ini dari Jakarta. “Jika digarap bagus, sinetron yang dimainkan anak-anak Medan, saya yakin tidak kalah kualitasnya dengan produk sinetron Jakarta,” katanya bernada filosofis.

Apa pula komentar dari kalangan orangtua di Medan? Dalam pandangan Ahmad Pane (53), pola menonton televisi sebagai kebiasaannya sehari-hari adalah pertama-tama mengikuti berita daerah Sumatera Utara. “Berita nasional dan internasional juga penting. Jadi alangkah baiknya selain menyajikan berita seputar Sumatera Utara,  tv lokal di Medan hendaknya mampu meliput berita nasional dan internasional,” kata karyawan BUMN ini. Hal senada juga diungkapkan Ir. Hasman Hasyim (52), dosen Fakultas Pertanian USU. Ayah empat anak ini berpendapat, kualitas siaran televisi lokal ditentukan oleh kemampuan pengelolanya untuk memberikan informasi yang berbobot, baik untuk peristiwa lokal maupun nasional dan mancanegara. “Terutama penayangan berita-berita daerah yang menjadi pilihan utama saya,” imbaunya pula. (arif/liston/hariyadi)

Iklan

8 pemikiran pada “Menakar Bisnis TV Lokal di Medan

  1. Eksistensi tv lokal, perlu di berdayakan.peran serta pemerintah dan pelaku dunia usaha harus senergi dengan tv lokal tersebut. apa yang menadi kendala sehingga eksistesi tv lokal di beberapa daerah sulit untuk berkembang,…
    solusi apa yang harus ditawarkan

  2. selamat malam..
    saya ..salah satu kepala bagian di DIAN TV indramayu..
    akan lebih baik bila TV swasta lokal saling berbagi dengan TV swasta yang lainnya..

  3. suram, seram dan mencekam. itulah tv lokal!
    SSJ bukan seperti hari ini. SSJ dibenak saya TV Deli di Sumut dibina RCTI misalnya. TV Tegar di Lampung di bina Indosiar misalnya.

  4. suburnya pendirian tv lokal di berbagai daerah adalah bagian dari tumbuh suburnya demokrasi, ekonomi, dan intelectual masyarakat, dalam pengelolaannya tv lokal hrs lbh mengedepankan informasi yg educatif , mampu memberi solusi atas berbagai berita yg carut marut, mengedepankan kelestarian budaya lokal, dan masih byk potensi lainnya. Filosofi kerja TV lokal perlu dirubah agar tidak seperti tv swasta nasional yg slama ini lbh mementingkan berburu iklan, daripada memperbaiki moral anak2 bangsa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s