Ketika Bumi Bisa Dilipat

Ketika kita kini masuk ke dalam era web 2.0 yang mengedepankan interaktivitas, di lingkungan pendukung dari sisi perangkat keras saat ini berlomba menghasilkan perangkat layar elektronik yang tipis, ringan, hemat, portabel, dan murah layaknya kertas. Maka, sambutlah kedatangan kertas elektronik yang sesungguhnya.

Jeff Bezos memang benar-benar orang yang bervisi jauh ke depan dalam mengembangkan bisnisnya, sekaligus bermisi radikal mengubah budaya baca manusia di masa depan. Inilah yang dilakukan Amazon melalui Amazon Kindle. Belum lama ini diluncurkan, perangkat baca e-book ini menegaskan era kertas elektronik kian mendobrak peradaban literasi kita. Padahal aktivitas membaca dengan tingkat portabilitas seperti ini yang setara dengan suratkabar dan buku, hanya bisa dibayangkan melalui novel-novel dan dilihat melalui film-film fiksi ilmiah.

Dengan Amazon Kindle pengguna bisa membaca e-book yang dibeli ataupun didapatkan cuma-cuma dari Amazon ataupun situs lain. Selain e-book, dengan Amazon Kindle, pengguna bisa membaca suratkabar edisi elektronik dari The Times, The Wall Street Journal, The Washington Post, Le Monde, dan majalah Atlantic.

Sebelum Amazon Kindle ada beberapa perangkat sejenis yang cukup populer diserap pasar, yaitu Sony Reader yang mampu menampilkan 1200 x 825 pixel dalam mode tampilan SVGA alias Super Video Graphic Display. Seharga sekitar 3 jutaan rupiah, pengguna hanya bisa menikmati tampilan hitam putih.

Saat ini beberapa suratkabar ternama sudah mengadopsi penggunaan kertas elektronik sebagai salah satu layanan tercanggih. Mulai Februari 2006 De Tijd, suratkabar Belgia misalnya menempatkan berita-berita versi elektroniknya pada e-book reader iRex iLiad. Demikian juga suratkabar Echos di Paris yang sudah dimulai September 2007 lalu dengan perangkat yang sama. Sementara itu, pembaca New York Times dan International Herald Tribune akan dapat membaca suratkabar terkenal tersebut dengan menggunakan perangkat Sony Reader tahun ini juga.

Penanda lainnya adalah dengan diluncurkannya e-book reader Booken Cybook Gen3. Dan saat ini kertas elektronik berwarna (full color) sedang dikembangkan perusahaan pembuat ban, Bridgestone. Kertas elektronik ini mampu menampilkan 4.096 warna dalam ukuran A3 (297 x 420 mm) atau setara dengan layar 21,4 inci. Dirancang menyerupai tinta pada kertas biasa, kertas elektronik ini akan digunakan untuk keperluan poster iklan.

Bridgestone juga tengah mengembangkan kertas elektronik dengan ketebalan 0,29 mm dengan kemampuan menampilkan warna sama seperti produk sebelumnya. Dan lebih gilanya lagi, kertas elektronik ini dapat digulung, diremas, bahkan dilipat layaknya kertas biasa!

Berawal dari Tinta Elektronik

Saat ini dengan dunia penuh dengan monitor dan perangkat penampil elektronik LCD dan plasma, Anda barangkali tidak berpikir bahwa kertas adalah bagian dari teknologi penampil yang revolusioner. Tetapi penemuan kertas oleh bangsa Tiongkok secara mendasar mengubah cara dunia berkomunikasi. Tanpa kertas, buku-buku barangkali masih dicetak di atas kain sutra yang hanya bisa dimiliki orang-orang kaya.

Lihatlah di sekitar Anda. Rasanya cukup aneh kalau kita hidup tanpa kehadiran kertas dalam berbagai wujudnya. Menurut data dari National Association of Paper Merchants di Inggris, hingga tahun 2000 dunia membutuhkan kertas sekitar 280 juta ton kertas.

Hampir 2.000 tahun tinta di atas kertas adalah satu-satunya cara untuk menampilkan kata-kata dan gambar. Dan hingga saat ini masih mengalahkan tampilan komputer ketika berbenturan akan harga dan portabilitas. Kertas juga tidak membutuhkan sumber daya listrik untuk bisa aktif. Walaupun demikian kertas tetap memiliki keterbatasan: setiap kali dicetak, kata-kata tidak dapat diubah tanpa meninggalkan jejak. Dan juga kertas tidak dapat dibawa ke mana-mana dalam wujud buku.

Kertas elektronik (electronik paper display/EDP/e-paper) atau juga sebelumnya lazim disebut tinta elektronik (e-ink) adalah bentuk material yang diproses ke dalam sebuah film untuk berintegrasi menjadi tampilan elektronik. Walaupun terkesan sangat revolusioner, tinta elektronik adalah fusi langsung ilmu kimia, fisika dan elektronik dalam membentuk sebuah material baru.

Komponen mendasar dari tinta elektronik adalah jutaan kapsul mikro yang setara dengan diameter rambut manusia. Setiap kapsul mikro mengandung partikel putih yang bermuatan positif dan partikel hitam yang bermuatan negatif. Keduanya terintegrasi di dalam cairan yang transparan.

Ketika muatan listrik negatif diterapkan, partikel putih akan bergerak ke arah atas kapsul mikro di mana akan terlihat oleh mata pengguna. Hal ini yang memungkinkan permukaan layar terlihat putih pada area tersebut. Pada saat yang bersamaan muatan listrik yang berlawanan menarik partikel hitam ke arah bawah kapsul mikro, sehingga mereka tak terlihat. Dengan membalikkan proses ini, ketika partikel hitam tampil di atas kapsul, akan membuat tampilan menjadi gelap.

Agar Anda lebih mudah memahami teknologi ini, bayangkan jutaan kapsul mikro ini adalah bola-bola pantai transparan. Setiap bola diisi dengan ratusan bola-bola ping pong yang kecil. Termasuk udara, bola-bola pantai diisi dengan sejenis cairan elektronis yang disebut blue dye. Jika Anda melihat dari arah atas bola-bola pantai ini, Anda akan melihat bola-bola ping-pong melayang di dalam cairan, dan bola-bola pantai akan terlihat putih. Tetapi jika Anda melihat dari bawah bola, akan terlihat berwarna biru.

Nah, jika Anda meletakkan ribuan bola pantai di sebuah lapangan, lalu menggerakkan bola-bola ping-pong di antara atas dan bawah setiap bola, Anda bisa membuat warna lapangan tersebut berubah. Inilah analogi dan prinsip dasar tinta elektronik.

Tinta elektronik dapat dicetak pada berbagai permukaan, termasuk dinding, billboard, label produk, bahkan kaos. Pemilik rumah kelak bisa mengganti kertas dindingnya dengan mengirimkan sinyal kepada tinta elektronik pada dinding. Bayangkan kemampuan itu jika diterapkan di kelas-kelas sekolah, sehingga kita tidak memerlukan proyektor digital lagi.

Perkembangan terkini datang dari perusahaan Opalux di Toronto Amerika Serikat. Melalui teknologi Photon Ink atau P-ink, Opalux berharap akan menjadi perusahan pertama yang menerapkan tinta elektronik tercanggih saat ini menjadi sebuah standar untuk industri.

Keunggulan teknologi ini terletak pada kristal foton yang terbuat dari pasir silica yang masing-masing berukuran 200 nanometer yang ditanamkan pada polimer elektroaktif di antara elektroda transparan. Kristal ini selanjutnya dibuat untuk memantulkan berkas-berkas sinar dengan panjang gelombang yang bervariasi. Menurut Opalux, P-Ink akan menampilkan warna-warna lebih terang daripada perangkat penampil lainnya. Opalux yakin teknologi ini akan digunakan secara luas dua tahun lagi, dengan tampilan iklan sebagai kandidat pertama.

P-Ink ini sekaligus menjawab keterbatasan teknologi e-ink yang dirintis oleh E Ink dan Xerox dalam hal optimalisasi tampilan. Misalnya untuk menampilkan warna merah pada keseluruhan layar yang merupakan hasil kombinasi dari warna primer, yaitu merah, hijau, dan biru, maka hanya sepertiga saja dari piksel yang sesungguhnya berwarna merah. Sedangkan dengan P-Ink yang terjadi adalah sebaliknya, di mana setiap pixel mampu menghasilkan warna pada spektrum yang terlihat.

Gulung atau Lipat

Di masa depan bukan hanya Amazon Kindle saja yang terdepan menampilkan keunggulan dalam hal teknologi tampilan. Kelak perusahaan periklanan menjadikan teknologi ini sebagai tawaran paling eksklusif bagi klien mereka. Dengan teknologi ini produsen dapat menawarkan produknya lebih interaktif dan menarik, sebab bisa dipasang pada media apa saja. Bayangkan saja di masa depan iklan-iklan video interaktif bisa Anda saksikan di meja-meja makan restoran.

Secara luas, teknologi kertas elektronik menjadi mungkin diterapkan untuk e-book, e-dictionaries, e-newspaper, telepon seluler, PDA, tablet, kamera digital, album digital, ATM, dan berbagai gadget yang bisa dikenakan, seperti gelang, jam tangan, bahkan jaket Anda.

Di masa depan adalah hal yang lumrah para mahasiswa di taman kampus membaca berita dari New York Times melalui internet yang ditampilkan dalam lembaran kertas elektronik setebal 0,3 mm. Dan tak lama kitapun sadar ternyata kita tidak hanya bisa menggenggam bumi dengan memperoleh berbagai jenis informasi dalam jumlah dan bentuk tak terhingga, tetapi juga menggulung dan melipatnya.Tak lama lagi.

(vinsensius/howstuffworks.com/engadget.com/
technologyreview.com/businessweek.com/wikipedia.org/eink.com
/ futureofdocuments.blogs.xerox.com,japantoday.com)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s