Kecakapan Multimedia dan TIK

Oleh: Vinsensius Sitepu

Seiring dengan pesatnya perkembangan komputer, internet dan teknologi informasi komunikasi (TIK) di dalam dalam konteks kultural kita, pemahaman, keahlian dan penggunaannya dirasakan semakin mendesak. Kita sebagai masyarakat informasi diharapkan tidak hanya cakap dalam membaca dan menulis, tetapi dalam rangka menghimpun wawasan yang lebih luas untuk pendidikan dan kemampuan bertahan hidup, kecakapan multimedia mutlak adanya.

Multimedia adalah penggunaan beberapa bentuk media yang berbeda dalam menyampaikan informasi. Beberapa dari bentuk media itu telah menjadi bagian dari komunikasi dan publikasi global: teks, audio, grafis, animasi, video dan interaktivitas. Bentuk yang lain adalah realitas virtual, pemrograman komputer, teknologi robot dan lain sebagainya adalah beberapa entitas lain yang kelak menjadi entitas bentuk itu.

Dengan luasnya penggunaan komputer, kecakapan dasar membaca dan menulis seringkali dilakukan melalui komputer, menyediakan fondasi yang kuat dalam kecakapan multimedia yang lebih baik.

Definisi lama mengenai kecakapan adalah mengacu pada membaca, menulis, mengeja, mendengar dan berbicara. Bahkan lebih khusus lagi dikembangkan pada konsep kecakapan media yang fokus pada berbagai bentuk media tradisional seperti suratkabar, televisi dan radio. Sasaran pendidikan dalam bidang ini adalah usaha dalam menumbuhkan sikap kritis dalam mengonsumsi media. Dan ditegaskan bahwa media ada entitas yang dikonstruksi agar setiap pesan yang disampaikan tampak alami, padahal pada kenyataanya tidak. Kemampuan mendistorsi media muncul dalam segala aspek. Dan media sangat potensial dalam bias-bias pesan. Apalagi dengan kemampuan teknologi komputer saat ini, aspek teknis dan visualisasi bukan tidak mungkin semakin membuat pesan media terlihat semakin manipulatif. Maka tidak menunggu kondisi itu semakin parah, kecakapan multimedia dalam tahapan berpikir kritis dan produksi harus dilakukan.

Beberapa pengamat sepakat bahwa definisi kecakapan seharusnya diperluas, tidak hanya berkutat pada media tradisional saja. Misalnya, di Amerika Serikat, Dewan Nasional Guru Bahasa Inggris dan Asosiasi Membaca Internasional menambahkan representasi visual pada daftar kompetensi tradisional kecakapan.

Sejak komputer dan internet berkembang pesat sejak tahun 1990-an, beberapa pihak berpendapat definisi kecakapan harus memasukkan kemampuan dalam menggunakan dan berkomunikasi dalam tataran teknologi. Teknologi modern membutuhkan penguasaan yang baik terhadap perangkat-perangkat baru seperti browser internet, aplikasi pengolah kata dan pesan teks. Hal ini menimbulkan ketertarikan pada dimensi baru komunikasi yang disebut sebagai kecakapan multimedia.

Di Indonesia sendiri baru sekitar tiga tahun belakangan konsep multimedia dijadikan acuan sebagai kompetensi dalam wawasan pendidikan, pengetahuan dan peluang bekerja di perusahaan dan berwirausaha. Atau mengacu pada Undang-undang Sistem Pendidikan Nasioanal disebut sebagai Program Keahlian Multimedia. Hal ini dikonkretkan dalam STM TIK (Sekolah Teknik Menengah Teknologi Informasi Komunikasi). Standar kompetensi keahlian yang digunakan sebagai acuan pengembangan kurikulum Program Keahlian Multimedia adalah Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI) pada Bidang Teknologi Informatika.

Program Keahlian Multimedia membekali peserta didik dengan keterampilan, pengetahuan dan sikap agar kompeten dalam 3 hal: Pertama, mengoperasikan peranti lunak dan periferal ilustrasi digital, pencitraan digital dan desain web. Kedua, mengoperasikan peranti lunak dan periferal multimedia, presentasi, animasi 2D dan 3D. Ketiga, mengoperasikan peranti lunak dan periferal audio dan video digital dan efek visual.

US$ 200 Ribu Setiap Bulan
Tidak sedikit kaum remaja yang memiliki kemampuan dan keahlian pada kecakapan baru yang berhubungan dengan penggunaan peranti-peranti online berkarakter digital, seperti weblog, social networking site, situs sharing video dan musik dan lain sebagainya. Dan bukan hal yang mengejutkan beberapa dari mereka mengubah kemampuan tersebut menjadi uang. Ada puluhan weblogger di Amerika Serikat, ditambah orang-orang muda di Eropa dan Australia menjadi kaya raya dalam hitungan 5 tahun, bahkan kurang. Melalui weblog yang bertemakan hal yang ramah tamah mulai dari kucing hingga politik, mereka bisa menarik para pemasang iklan dengan laba kotor lebih dari 10 ribu dolar setiap bulan.

Saya berdecak kagum saat membaca laporan menyeluruh dari situs web businessweek.com belum lama ini. Dalam warta yang bertajuk How Top Blogger Earn Money tersebut dipaparkan perjuangan dan kerja keras 14 blogger menggunakan kekuatan internet dalam memaksimalkan hasrat dasar manusia dalam berkomunikasi yang bisa menghasilkan uang. Jake Dobkin yang mendirikan Gothamist.com misalnya mampu meraup laba US$ 50 ribu hingga US$ 60 ribu setiap bulan! Yang lebih mengagumkan adalah Tech Crunch yang didirikan Michael Arrington pada Juni 2005 lalu.

Pada tahun 2006 saja ia mampu menambah pundi-pundinya sebesar US$ 200 ribu setiap bulan.
Beberapa perusahaan hanya mempekerjakan tidak sampai sepuluh orang yang berperan sebagai penyunting, pemelihara situs web dan administrator. Dan kebanyakan dari mereka sebelumnya belum pernah bersentuhan erat dalam dunia media tradisional seperti suratkabar atau televisi.

Mereka hanyalah orang biasa yang memang gemar bekerja keras dan sangat yakin bahwa teknologi memiliki peran penting bagi mereka dalam bertahan hidup. Sungguh hal ini membuktikan kecakapan multimedia mampu mendatangkan keuntungan finansial.

Seberapa Penting?
Kecakapan multimedia adalah bagian dari isu utama penggunaan teknologi informasi dan komunikasi di sekolah atau lembaga pendidikan lainnya. Walaupun ada tuntutan untuk menggunakan komputer secara efektif dalam peradaban sosial saat ini, tetapi beberapa pihak masih mempertanyakan sifat kealamian dari cara belajarnya.

Beberapa orang menilai hal tersebut hanyalah sekadar keahlian teknis. Yang lain justru memandang bahwa penggunaan teknologi komunikasi dan informasi memberikan pengaruh yang sangat besar dan signifikan dalam proses belajar. Avarim dan Talmi mengindentifikasi beberapa kelompok aktif menggunakan TIK dalam pendidikan, termasuk teknokrat, yang melihat bahwa TIK adalah hal yang non-problematik dan hal sederhana dalam menggunakan peranti baru. Dan kaum Reformis, yang memandang TIK adalah entitas penting dalam perubahan sistem pendidikan.

Pendukung TIK yang memandang pentingnya teknologi informasi dan komunikasi diterapkan dalam proses belajar memahami bahwa TIK memotivasi para pelajar, peranti yang sangat berguna dalam mengolah teks, kreasi seni, musik, model, presentasi, film dan lain-lain yang menghasilkan produk berkualitas tinggi, komunikasi mudah melalui teks, suara dan video serta akses cepat terhadap informasi dan sumber lainnya.

Bahan Kontemplasi
Dalam konteks kebangsaan kita saat ini harus diakui usaha pendidikan multimedia butuh kerja keras ekstra. Bagi yang bersikap pesimistis menilai tidak akan mungkin terjadi dalam waktu yang cepat ketika masih ada jutaan penduduk miskin kita yang masih buta huruf. Bagaimana kita berharap mereka menggunakan internet dan mendapatkan manfaat dari itu.

Kita ini seperti atlet yang kekurangan energi berlomba dengan negara lain. Dibandingkan dengan lawan jarak lompatan kita sangat pendek sekali. Hingga pada saat tertentu kita lambat menyadari bahwa atlet yang lain yang pada saat di garis start memiliki energi yang tidak jauh berbeda dengan kita, menggunakan tambahan energi yang sama sekali tidak kita ketahui untuk melompat ke tahapan yang lebih tinggi dari kita.

Tetapi tentu ada harapan dari segala kesulitan. Mudah-mudahan dengan rampungnya perbaikan infrastruktur telekomunikasi melalui Proyek Palapa Ring pada tahun 2009 kita bisa merasakan manfaat dunia TIK bagi kelangsungan kehidupan Nusantara tercinta ini. Hal seperti ini setidaknya bisa menjadi bahan kontemplasi dalam suasana peringatan kemerdekaan Republik Indonesia. Semoga di masa depan Indonesia jaya dengan kemampuan TIK-nya!

(Dikutip dari: http://www.harian-global.com/news.php?item.23450.8)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s