Jakob Oetama

Jakob Oetama lahir di Borobudur, 27 September 1931. Setelah lulus Guru Sejarah B-1 (1956), lalu melanjutkan studi di Jurusan Jurnalisme, Akademi Jurnalistik Jakarta dan lulus tahun 1959. Pendidikan terakhir mantan guru sejarah SLTP dan SMU di Jakarta itu, di Jurusan Publisistik, Fisipol, UGM.

Jakob juga berkiprah dalam berbagai organisasi dalam maupun luar negeri. Beberapa diantaranya pernah menjadi Sekretaris Jenderal Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Anggota DPR Utusan Golongan Pers, Pendiri dan Anggota Dewan Kantor Berita Nasional Indonesia, Anggota Dewan Penasihat PWI, Anggota Dewan Federation Internationale Des Editeurs De Journaux (FIEJ), Anggota Asosiasi International Alumni Pusat Timur Barat Honolulu, Hawai, Amerika Serikat, dan Ketua Bidang Organisasi dan Manajemen Serikat Penerbit Surat Kabar.

Harian Kompas, yang dirintisnya bersama P.K. Ojong pada 1965, tercatat beroplah sekitar 460 ribu pada ulang tahunnya ke-30. Tertinggi di Indonesia. Ada kekhawatiran sementara pihak, jumlah oplah yang tinggi akan menimbulkan monopoli terhadap opini masyarakat oleh beberapa penerbitan tertentu. Ini segera dibantah Jakob. ”Monopoli itu tidak benar, karena koran itu tidak hanya Kompas, Sinar Harapan, dan Tempo,” katanya.
Jakob adalah putra seorang pensiunan guru di Sleman, Yogyakarta. Ia diarahkan menjadi rohaniwan dan guru. Merampungkan SMA (Seminari) di Yogyakarta, pada awal 1950-an ia pernah mengajar di SMP Mardiyuwana, Cipanas, Jawa Barat, dan SMP Van Lith, Jakarta. Setahun sebelum meraih BI Ilmu Sejarah, ia menjadi redaktur mingguan Penabur di Jakarta, 1955. Jakob kemudian masuk Perguruan Tinggi Publisistik di Jakarta, dan Fakultas Sosial Politik UGM di Yogyakarta.
Ia, bersama P.K. Ojong, lebih dahulu mengelola majalah Intisari (1963), yang mungkin diilhami majalah Reader’s Digest dari Amerika. Dan ternyata sukses. Baru dua tahun kemudian, 1965, juga bersama Ojong, Jacob mendirikan harian Kompas. Ketika itu, pers Indonesia sedang dikuasai koran-koran bersuara garang. Tidak terikut arus, surat kabar yang bermotto Amanat Hati Nurani Rakyat itu tampil dalam gaya yang kalem.
Bersama Ojong, Jacob menerapkan kepemimpinan yang memberikan teladan. Ia suka bekerja keras, menepati janji, dan tepat waktu. Tidak banyak bicara, tetapi banyak membaca, dengan tetap menjaga jarak dengan bawahan yang diasuhnya. Dengan perlahan, tetapi mantap, Kompas merebut pembaca. Iklim politik dan usaha yang lebih longgar di zaman Orde Baru turut menopang keberhasilan surat kabar tersebut. (dari berbagai sumber )

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s