Simulacra Baudrillard

OLEH: Syafruddin Pohan

(Pengajar di Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU)

Pembodohan global serupa tampak nyata, di mana teknologi komunikasi telah merasuk. Hal ini dipahami sebagai karakter utama gaya hidup berupa praktik oposisi biner yang mendasari simbol-simbol pola budaya konsumerisme ala MTV dan American Idol yang mendunia.

Perkembangan makna berlangsung cepat dan biasanya selalu meningggalkan referensinya. Dunia bukan lagi desa global (the global village) seperti yang dikatakan Marshall McLuhan, tetapi dunia dengan masyarakat yang gamang, di mana yang nyata mengalami penyusutan eksistensial sampai ke tingkat individual.

Erosi pemaknaan dan juga pemahaman yang serba seragam atau tunggal, bukan saja berseberangan dengan rasionalisme Kantian dan humanisme liberal. Baudrillard membuat pengertian baru tentang dunia yang semata-mata dipahami melalui hasrat dan kemampuan berpikir koherensif. Itulah simulacrum.

Berbagai argumentasi filosofis dan sosiologis membuat pemikiran Baudrillard dekat dengan pemikiran post strukturalis, terutama penghadiran sistem tanda dan pemaknaan sebuah realitas.

Meski pemikirannya searah dengan Foucault yang juga beraliran pos-strukturalis (post-modernism/post-critical discourse), namun tak luput dari sasaran kritiknya. Baudrillard membangun teori-teorinya antara lain teori simulasi dan teori hiperrealitas tidak didasari oleh kuasa ideologi teks media sebagaimana diajukan Foucault.

Bagi Baudrillard yang selalu menjadi prinsip dan penting dalam penghadiran makna teks media adalah maksud (intention). Dari maksud itulah kita dapat mengetahui adanya praktik jurnalisme simulasi media dan hiperrealitas media.

Dari sisi ini Baudrillard seperti mendayung perahu melintasi Saussure dan Barthes yang masih mempraktikkan semiotik dengan latar belakang sejarah dan struktur sosial.

Baudrillard terkesan dipengaruhi oleh pemikiran antropologis Marcel Mauss dan Georges Baitaille, bahwa penerapan logika semiotik berupa pertukaran komoditas mestinya berjalan tanpa kepentingan. Meski pada kenyataannya pertukaran komoditas dan kuasa modal selalu berbanding lurus dengan dinamika never-ending circuit of capital accumulation atau circuit money-commodity-more money.

Sementara suprastruktur produksi teks itu semakin nyata terisi oleh sebuah senyawa aneh, hasil kombinasi antara kenyataan formal dalam bingkai metanarasi dengan rasionalitas substantif (narasi simulatif media).

Alih-alih kita memercayai bahwa yang kita alami sebenarnya adalah simulasi persepsi yang terus kita beri label. Itu artinya di antara realitas media senantiasa terdapat realitas simulatif.

(Dikutip dari rubrik Kajian, Dictum edisi Perdana, April 2007)

Iklan

2 pemikiran pada “Simulacra Baudrillard

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s