Profesionalitas Jurnalis Medan, Profesionalitas Sejengkal Perut

OLEH: Liston Aqurat

(Mahasiswa Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU)

Wakil pemimpin redaski sebuah harian Medan menyesalkan nasib profesi jurnalis dewasa ini diisi orang yang sekadar iseng-iseng alias tidak punya alasan khusus memilih profesi tersebut. “Akibatnya, saya jadi tong sampah bagi seorang pejabat Dinas Pendidikan Nasional karena perilaku wartawan yang baru mewawancarainya,” katanya. Ia pun harus bersusah payah memberikan klarifikasi kepada re­kan-rekannya karena jurnalis tersebut telah salah tangkap dengan pernyataannya mengenai program “Lima hari belajar efektif di sekolah”.

Di Pengadilan Negeri Medan, pekerja pers mengejar para pengacara bukan karena ingin mengorek berita, tapi karena mengharap sogokan.

fakta empiris di atas adalah sedikit gambaran tentang amburadulnya profesionalitas jurnalis Medan. Di manakah hulu permasalahan-permasalahan ini?

Kita tidak dapat mencari jawaban dengan ujung-ujungnya hanya menempatkan jurnalis sebagai yang “terdakwa”. Pengusaha media sebagai pihak yang mempekerjakan mereka merupakan pihak yang paling bertanggung jawab. Mereka telah membuat, dan parahnya, memelihara sistem yang tidak adil bagi pekerja dan karenanya sakit sejak awal.

Pengusaha telah merasa cukup dengan hanya membayar gaji wartawan sedikit di atas UMR yang kira-kira sekitar enam ratus ribu rupiah itu. Padahal kita tahu bagaimana aktivitas kerja seorang pencari berita. Tak pelak lagi jurnalis merupakan profesi yang menuntut dedikasi tinggi serta independensi untuk memenuhi tuntutan perubahan di masyarakat. Selain itu, wartawan adalah profesi dengan mobilitas tinggi dan terkenal tidak “royal” dengan waktunya.

Di Indonesia, sekarang ini terdapat sekitar 829 media cetak dengan kondisi 30% sehat dan sisanya masih “sakit”. Beruntunglah jurnalis yang bekerja tanpa harus khawatir kendaraannya berhenti di tengah jalan karena kehabisan bahan bakar. Tapi, sungguh sial wartawan yang mencukupi kebutuhan keluarganya dengan harus mencuri kesempatan dari profesinya sebagai juru informasi.

Sekarang ini ada segelintir wartawan yang menyiasati kurangnya dana operasional dengan “selektif” menerima sogokan. Mereka mencoba fleksibel, menerima amplop tapi tidak sampai memelintir fakta dalam beritanya. Atau, ada yang menunda rencananya berkeluarga demi mengurangi tanggungan hidup.

Tapi, sogokan tetaplah sogokan. Dewan pers tentunya punya acuan yang kuat sehingga memasukkan pemikiran ini dalam Kode Etik Jurnalistik. Sogokan tidak bisa ditoleransi karena menjatuhkan martabat profesi kewartawanan dan dapat menciptakan iklim yang tidak sehat dalam dunia pers.

Adanya rencana revisi UU No. 40 Tahun 1999 Tentang Pers yang dilancarkan Menkominfo harus benar-benar berlandaskan niatan untuk menyejahterakan jurnalis, termasuk jurnalis Medan. Jika substansi dari revisi UU Pers terwujud, maka pemilik media tidak boleh hanya berbekal keinginan meramaikan jagat pers Indonesia. Mereka juga harus didukung pendanaan yang kuat sehingga bisa membayar wartawan dengan memadai.

Pemerintah nampaknya tetap yakin dengan pendekatannya untuk meningkatkan profesionalitas pekerja. Seperti naiknya tunjangan anggota DPR, pemerintah berkeyakinan wartawan akan menuju profesional jika hidupnya lebih terjamin. Dan sama juga seperti anggota dewan yang kinerjanya masih dipertanyakan pascakenaikan tunjangan, permasalahan seputar kewartawanan kemungkinan akan tetap ada. Namun, setidaknya kita akan menemukan permasalahan dengan tingkatan yang berbeda, bukannya lagi hanya perkara sejengkal perut!

 

(Dikutip dari rubrik Kajian, Dictum edisi Perdana, April 2007)

 

2 pemikiran pada “Profesionalitas Jurnalis Medan, Profesionalitas Sejengkal Perut

  1. Ass.
    Soal artikel di atas, saya setuju dan ada benarnya. Soal pendanaan yang kurang, membuat saya sebagai seorang jurnalis dituntut harus punya keahlian yg lain dari sekedar tulis menulis. Saya sendiri harus mengurangin jatah makan saya untuk kepentingan trasportasi dalam meliput berita. Kesehatan saya menurun karena kurang tidur dan harus berpergian ke beberapa tempat dalam satu hari. Dan anehnya orang tua saya malah memfonis saya sebagai pemakai narkoba. Saya sudah cape meliput berita, pulang-pulang langsung mendapat tuduhan yg seperti itu. Pada hal buat makan saja saya sudah susah, di tuduh pake narkoba yg jelas-jelas harganya mahal. saya lebih memilih nasi deh… ketauan kenyang.

    walaupun saya perempuan muda. saya juga ingin dipandang sama derajatnya dengan kaum laki-laki.
    bahkan menurut hemat saya, perempuan itu lebih kuat dari kaum laki-laki.
    Jurnalism Perempuan….?? kenapa enggak.

  2. (Pesan ini juga disampaikan secara pribadi kepada Rena melalui e-mail)

    Halo, Rena saya Vinsensius dari majalah kajian media, Dictum.

    Rena, terima kasih sudah mengomentari entri pada blog Dictum. Saya dapat memahami kondisi Rena saat ini yang tengah berjibaku dengan berbagai problema jurnalistik. Saya juga pernah selama 4 bulan menjadi kontributor untuk Metro TV dan menghadapi problema yang serupa dengan itu. Jurnalis yang bisa bertahan hidup di dunianya saat ini hingga puluhan tahun, bukanlah didapat dari perusahaan dengan gaji dan bonus. Sebagian besar dari mereka betah, karena jual beli berita dan pecitraan narasumber dengan imbalan uang. Media ada panggung sandiwara yang sempurna untuk sebuah kemunafikan dan praktik kekuasaan dalam menekan pihak yang lemah. Dalam relasinya dengan ideologi dan politik, jurnalis dan pemiliki media menjadi serupa dengan dewa yang hampir tak tersentuh tangan hukum. Mereka berlindung dari faham demokrasi, kebebasan berbicara dan kebebasan pers.

    Bukan berarti kami menolah faham demikian, justru kami menginginkan itu terus bersemi. Masalahnya itu menjadi senjata dan tameng ketika mereka ingin bersikap jahat dan melupakan masalah yang paling esensial yaitu membela rakyat kecil dan menjadi motor kuat memerangi kemiskinan.

    Demikian Rena, ini pandangan pribadi saya dan bukanlah refleksi dari seluruh dewan redaksi Dictum, walau saya menggunakan kata “kami”.

    Oke Rena.. Tetap semangat ya….!

    Salam
    Vinsensius Sitepu
    (redaktur)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s