Patriarki, Wabah Penyakit Media Massa

OLEH: Febry Ichwan Butsi

(Alumnus Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU, kini mengajar di Universitas Muslim Nusantara, Medan)

“Di negeri kami tubuh perempuan bukan milik perempuan

dada dan paha sudah dijatahkan buat biro iklan dan wartawan

vagina dan rahim adalah lahan resmi Proyek nasional KB….” (Ariel Heryanto : 1998)

Budaya patriarki selama ini merupakan sebuah budaya yang secara sistemik dan berlangsung terus menerus menjadi bagian dari sebagian masyarakat Indonesia serta pranata sosialnya. Di mana secara sadar atau tidak sadar terkadang diwujudkan dalam perilaku kesehariannya.

Patriarki adalah sebutan pada sistem yang melalui tatanan sosial politik dan ekonominya memberikan prioritas dan kekuasaan terhadap laki-laki dan dengan demikian secara langsung maupun tak langsung, dengan kasat mata maupun tersamar, melakukan penindasan atau subordinasi terhadap perempuan (Melani Budianta, 2002 : 207).

Budaya patriarki bukanlah budaya yang telah ada dan menjadi kodrat sejak manusia lahir sehingga membagi pandangan, perspektif dan pemahaman manusia atas kesetaraan wanita dan pria. Namun budaya patriarki adalah hasil dari konstruksi manusia sendiri (baca: pria) yang melanggengkan kekuasaan dan superioritasnya atas wanita. Penyebarluasan pandangan dan gagasan patriarki ini sendiri juga turut dipengaruhi oleh media massa yang termasuk dalam struktur tatanan sosial dan politik dan ekonomi.

Kaum feminis dalam gerakannya banyak mengkritik media ikut memelihara dan mengukuhkan pandangan bahwa wanita merupakan warga kelas kedua setelah laki-laki. Mereka melihat bahwa dalam pengisahan berita (news stories) yang berisikan pengalaman wanita, kultur wanita, hingga kehidupan wanita digeneralisasikan dan didefinisikan dalam perbandingan dengan norma yang dikonstruksi secara sosial, yang digenderkan dan tentu saja di hadapan kaum pria.

Di Indonesia dengan “menjamurnya” media massa saat ini semakin ikut melanggengkan dan memelihara budaya patriarki. Kondisi objektif kehidupan pers di Indonesia khususnya pascareformasi, banyak membawa perubahan pada bangsa Indonesia saat ini. Salah satunya adalah perubahan dinamika kehidupan pers, dulunya dibungkam pemerintah sekarang menjadi bebas. Hal ini juga berimbas pada kebebasan media dalam memberitakan atau mengangkat cerita mengenai kaum wanita.

Walaupun pada dasarnya wartawan senantiasa dituntut untuk objektif (fairness), tidak memihak (balance) dan menghadirkan fakta tanpa mencampuradukkan dengan opini, tapi dalam praktiknya wartawan tetaplah seorang manusia yang senantiasa menghadirkan sisi subjektifitasnya dalam menulis berita. Hal ini disinggung oleh Eriyanto, ia melihat bahwa konstruksi realitas lewat media sesungguhnya diproduksi oleh representasi dari kekuatan-kekuatan sosial dominan yang ada dalam masyarakat (Eriyanto. 2001: 29).

Dalam pengamatan penulis, banyak wartawan ataupun media massa yang malah melakukan “pemerkosaan kedua” pada berita yang mengangkat korban kasus pemerkosaan atau pelecehan seksual. Pemerkosaan kedua ini tidak berbentuk pemerkosaan fisik namun lebih berbentuk pada pemerkosaan psikologis.

Bahasa sebagai suatu perangkat sistem tanda (Karlina Leksono dan Supeli dalam Idi Subandy dan Hanif Suranto, 1998 : 200) terkadang dibelokkan oleh wartawan atau media untuk memelihara budaya patriarki. Dan karena sifat bahasa yang statis, terbatas dan abstrak, penyalahgunaan tertentu terhadap bahasa sepertinya bisa terjadi (Severin, Werner dan Tankard, Jr. W, 2001 : 112).

Dengan pemilihan dan permainan kata dalam membentuk untaian kalimat, wartawan kerap memojokkan kaum wanita dalam pemberitaannya, dan wanita seringkali dilabeli (sterotip) sebagai yang -“memancing nafsu syahwat”, “penggoda” bahkan untuk membenarkan posisi pria dan menyalahkan wanita dalam kasus pemerkosaan dengan kata-kata “suka-sama-suka”.

Dari uraian di atas, nampak jelas bahwa media massa beserta struktur perangkat kerjanya hampir memiliki pandangan sama mengenai posisi wanita. Pemahaman mengenai kesetaraan gender ini bisa jadi karena ideologi pemilik media, pengalaman dan pendidikan wartawan yang minim melek gender hingga pekerja media massa yang lebih banyak kaum pria.

Salah satu solusi yang bisa ditawarkan untuk menghapus budaya patiarki dalam media adalah dekonstruksi pemahaman dan ideologi pekerja media mengenai gender, di mana dekonstruksi ini dapat ditempuh dengan melakukan pelatihan atau pendidikan yang berbasis anti patriarkis, menambah kuota wanita untuk bekerja di media massa.

Untuk dunia kampus khususnya mahasiswa ilmu komunikasi yang melakukan penelitian, kajian isi media harus mampu menganalisis isi teks berita dengan paradigma kritis, lebih-lebih lagi dengan menggunakan metodologi analisis wacana semisal dari Sara Mills, sehingga akan didapat sebuah hasil penelitian yang komprehensif dan kritis sebagai rekomendasi bagi dekonstruksi arus utama pekerja media dalam memandang wanita.

(Dikutip dari rubrik Kajian, Dictum edisi Perdana, April 2007)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s