Dicari, Media Massa Pro Lingkungan

OLEH: Febry Ichwan Butsi

(Alumnus Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU, kini mengajar di Universitas Muslim Nusantara, Medan)

“…Banjir bandang di Bukit Lawang, Langkat, Sumatera Utara, murni masalah bencana alam. Pengamatan ini dikuatkan hasil survei udara yang diambil dari helikopter, tidak terlihat adanya penebangan liar (illegal logging) di Daerah Aliran Sungai (DAS) Bohorok sampai lokasi wisata Bukit Lawang. Hal tersebut disampaikan oleh Dinas Kementerian Kehutanan…”

Kutipan diatas adalah penggalan berita surat kabar harian nasional mengenai peristiwa bencana banjir yang terjadi di kawasan wisata Bukit Lawang, Bohorok, Langkat, Sumatera Utara pada tanggal 2 November 2003. Bencana alam tersebut menjadi wacana hangat dan diliput oleh berbagai media massa, baik cetak maupun elektronik, media lokal, nasional bahkan luar negeri.

Mengapa media massa baru meng-cover berita mengenai peristiwa bencana alam yang notabene akibat kerusakan lingkungan hidup yang merenggut nyawa ratusan orang, dibanding meliput menyusutnya habitat flora dan fauna di Kawasan Ekosistem Leuser atau aktifitas illegal logging atau penebangan liar sebelum peristiwa itu terjadi?

Peristiwa di Bohorok adalah kejadian yang menarik untuk diberitakan media massa. Jumlah korban yang besar, terutama korban berkewarganegaraan asing, kerugian materil yang dialami, dan beberapa alasan lainnya adalah motif mengapa media massa berlomba-lomba menyuguhkan informasi tersebut. Dengan harapan pembaca akan membeli, membaca dan mengonsumsi produk jurnalistik dari media yang dipilihnya.

Maklumlah, karena media massa selain ingin menyuguhkan informasi yang akurat atau memenuhi keingintahuan pembaca, juga mempunyai tujuan praktis juga, yaitu keinginan agar produk jurnalistiknya laku terjual.

Andaikan sebelum terjadinya bencana alam media massa berani mengangkat isu seputar lingkungan hidup, bisa jadi mencegah terjadinya bencana alam. Media harus mewacanakan menyadarkan pembaca tentang pentingnya menjaga lingkungan hidup, mewacanakan aktifitas pengrusakan lingkungan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab dan bagaimana dampaknya pada pembaca sendiri.

Namun, bagi pengelola media, berita mengenai lingkungan hidup tidak populer, tidak penting, tidak menarik, terlalu membosankan. Terkadang isu lingkungan hidup sering diindentikkan dengan berita ilmiah yang memusingkan wartawan dan pembaca. Bahkan intimidasi oleh narasumber juga menjadi alasan mengapa wartawan kurang menggali wacana mengenai lingkungan hidup.

Maka, yang terjadi adalah media sendiri telah memarjinalkan berita atau isu mengenai lingkungan hidup, sehingga terbentuknya kesadaran mengenai lingkungan hidup pada masyarakat tidak terbangun. Bukankah, fungsi media massa adalah to inform dan to educate?

Teori Agenda Setting yang dikembangkan Maxwell Combs dan Donald Shwan, merupakan salah satu alasan mengapa media harus mampu memberikan porsi yang wajar bagi isu lingkungan hidup.

Subtansi teori Agenda Setting adalah bahwa isi pemberitaan media massa akan mampu mempengaruhi apa yang akan masyarakat pikirkan dan bicarakan. Isu mengenai lingkungan hidup, jika terus dan berulang-ulang di-cover media akan mempengaruhi pemikiran khalayak sehingga mempengaruhi pihak pengambil keputusan.

Tawaran lainnya adalah mengenai konsep penulisan berita bergenre jurnalisme lingkungan hidup. Berbeda dengan cara penulisan isu politik, hukum ataupun berita kriminal, jurnalisme lingkungan hidup akan membuat wartawan mempunyai perspektif sendiri dalam menggali fakta, data, isu dan berbagai masalah lingkungan lewat bingkai tersendiri. Jurnalisme lingkungan hidup akan membuat wartawan berpihak pada kelestarian lingkungan, tanpa menyampingkan prinsip keberimbangan hingga prinsip akurasi.

Selain itu, solusi lainnya yang dapat ditawarkan untuk penulisan lingkungan hidup pada media massa adalah sebagai berikut:

Pertama, kesadaran dari pihak atau pemilik media massa untuk bisa memberikan porsi yang selayaknya untuk meng-cover, meliput dan mewacanakan mengenai berbagai isu lingkungan hidup.

Kedua, memberikan kesadaran pada wartawan tentang pentingnya liputan mengenai isu lingkungan hidup. Liputan mengenai lingkungan hidup tak kalah nilainya, dengan liputan bidang lainnya. Selain itu wartawan yang meliput tentang isu lingkungan hidup harus paham, konsisten dan memang meminati masalah lingkungan hidup.

Ketiga, independensi media dan wartawan atas segala bentuk intimidasi yang dilakukan sumber berita terhadap liputan mengenai kepentingan sumber berita pada lingkungan hidup.

Semua yang datang dan hadir pada pembaca atau masyarakat, tidak terlepas dari peran media massa. Apa yang terjadi pada masyarakat adalah cerminan dari apa yang dibuat oleh media massa. Dengan terpenuhinya ketiga solusi di atas, maka terbentuknya tipologi masyarakat yang sadar, peduli pada lingkungan hidup akan tercipta. Dan tentunya itu adalah salah satu ciri masyarakat yang modern.

(Dikutip dari rubrik Kajian, Dictum edisi Perdana, April 2007)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s