Hiperrealitas Media

Kita paham bahwa sekarang era berada pada tingkat reproduksi (fashion, media, publisitas, informasi, dan jaringan komunikasi), pada tingkat yang secara serampangan disebut Marx dengan sektor kapital yang tidak esensial… artinya dalam ruang simulakra, kode, proses kapital global ditemukan. (Baudrillard, 1983:99).

Oleh: VINSENSIUS SITEPU

Pasti ada sesuatu yang salah dengan media hingga Baudrillard menempatkannya sebagai bagian dari simulakra. Mengacu pada pemikirannya mengenai simulakra, maka media hanya dipandang sebagai pabrik yang mereproduksi hal-hal yang sama sekali tidak nyata (imajiner). Atau jelas Baudrillard, “Yang benar dan yang nyata, lenyap dalam kelongsoran simulasi… tidak ada realitas atau kebenaran di belakang bagian luar simulasi.” Ini juga yang mematahkan asumsi bahwa setiap kondisi zaman sekarang adalah godokan dari yang nyata dan yang imajiner.


Maka, dalam dunia simulasi, media mereproduksi hiperrealitas. Dan dalam dunia hiperrealitas tidak ada yang asli dan nyata, tetapi dapat dilahap atas apa yang lebih nyata dari apa yang nyata, atas apa yang lebih ramah dari yang ramah dan sebagainya. Contoh terdekat yang diajukan Baudrillard adalah pornografi, di mana ia mamandang pornografi lebih seksual daripada seks!

Kami memandang media di zaman ini memainkan peranan besar sebagai pengobok-obok realitas pada setiap detik waktu yang kita lalui, dalam jeda kedipan mata kita yang memandang 25 frame per second citra televisi, dan dalam gerakan jempol tangan yang menekan remote control. Di saat kita menyadari media memberi kita kesadaran penuh terhadap hal-hal yang nyata di luar lingkungan kita, maka pada saat itulah kita dihadapkan pada permainan narasi besar yang sejatinya tidak menyuguhkan makna yang tidak nyata.

Media dalam tataran dunia modern yang awalnya menjanjikan manusia bisa bersifat manusiawi, tidak seluruhnya terpenuhi. Yang muncul hanyalah praktik ideologi kapitalisme global di dalam media yang menjadi serigala pemangsa domba-domba yang lemah. Yang kita lihat juga adalah upaya media—mengacu konsep Baudrillard—yang menutupi dan menyelewengkan dasar realitas, yang menutupi ketidakadaan dasar realitas dan yang melahirkan ketidakberhubungan pada berbagai realitas apapun.

Sifat hiperrealitas media adalah sebuah upaya cerdik tetapi idiot yang mereproduksi hal-hal yang dianggapnya bisa menambah pundi-pundi tabungan pemilik modal, semisal program reality show dan talents searching—di televisi. Akademi Fantasi Indosiar (AFI), Indonesian Idol, Kontes Dangdut TPI (KDI), Penghuni Terakhir, seleksi Srikandi dan Arjuna Pajak bersama pengikut-pengikutnya di belakang sana, sejatinya mereproduksi dari materi yang sudah matang.

Indonesian Idol tidak akan dibeli lisensinya oleh RCTI dari American Idol, jika AFI tidak laku dipelototin pemirsanya. Demikian juga KDI dengan model yang sama, berharap bisa mendulang uang lewat representasi program mereka sebagai kampus yang mengajarkan “ilmu dangdut”. Dan ia pun dikemas dengan kode-kode promosi: “Jadilah anda saksi bintang dangdut masa depan.”

Demikian wacana empirik itu sejalan dengan gagasan pikir Baudrillard: “Tatanan kedua adalah era industri yang dicirikan dengan produksi dan rangkaian reproduksi murni dari objek yang identik dengan rangkaian pengulangan atas objek yang sama.” Nah, agar pengulangan yang sama itu tidak terlihat, maka perlu pengemasan yang apik melalui simbol-simbol (kode-kode) tertentu yang menarik orang (baca: konsumen). Jelas Baudrillard lagi, “Era industri juga didominasi oleh kode dan generasi simulasi oleh model ketimbang sistem industri.”

Media yang selama ini kita anggap sebagai sahabat terbaik di mana dan kapan saja, ternyata menyimpan sejuta mata pedang yang setiap detik membunuh makna informasi yang direproduksinya.

Iklan

2 pemikiran pada “Hiperrealitas Media

  1. “Media yang selama ini kita anggap sebagai sahabat terbaik di mana dan kapan saja, ternyata menyimpan sejuta mata pedang yang setiap detik membunuh makna informasi yang direproduksinya.”

    Ini yang disebut dengan “industri telah melahap konsumen”. Meyelamatkan konsumen dari kemungkinan dilahap hanya dapat dilakukan dengan mendorong kesempatan kepada setiap orang untuk bertekun menggeluti sesuatu dan berkarya atasnya. Sehingga mereka tidak punya waktu untuk menjelajahi setiap “produk” industri. Sebaliknya, mereka bahkan menjadi produsen.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s