Televisi Peduli Anak

Martin Esslin menyebutkan bahwa abad ini sebagai abadnya televisi (the age of television), yaitu abad yang penuh dengan kelimpahan informasi dari televisi. Situasi ini mengakibatkan kita senantiasa haus dan terbius untuk selalu melihat dan menonton, termasuk di dalamnya adalah anak-anak. (Jurnal Iski, 1999)

Oleh: MAZDALIFAH

Pendapat Esslin tersebut tidaklah berlebihan, jika kita melihat situasi saat ini di sekeliling kita. Jutaan orang pada saat yang sama menyaksikan tontonan yang menawan hati semacam konser AFI, Indonesian Idol, bahkan sampai Konser Dangdut Indonesia (KDI). Jutaan khalayak seperti terhipnotis menyaksikan bintang idolanya muncul, orang dewasa sampai anak-anak ramai menggalang dukungan lewat layanan pesan singkat (SMS/short messaging services). Perilaku mereka seakan-akan terbius, dan selalu rajin menyaksikan tontonan tersebut dari minggu ke minggu.


    Penonton anak-anak merupakan penonton yang amat potensial. Jumlah anak-anak di sebagian besar negara Asia termasuk Indonesia yang berumur 15 tahun ke bawah mencapai 40 persen dari populasi. Artinya secara kuantitatif, anak-anak adalah khalayak media yang signifikan di kawasan ini (Jurnal Iski, 2001). Data penelitian Sugiharti (1997) menunjukkan bahwa sebagian besar anak-anak menghabiskan waktunya di depan televisi, mengalahkan kegiatan belajar dan bermain. Hal ini berarti anak-anak telah terbius dan selalu melihat dan menonton televisi.

Sepatutnya kita merasa khawatir atas data tersebut, karena jika kita mau jujur tayangan televisi belum memberikan tayangan yang mendidik bagi anak-anak. Televisi penuh dengan tayangan mistik, pornoaksi, kekerasan, dan dunia kemewahan yang tiada tara. Hasil penelitian analisa isi terhadap film anak-anak semakin mempertegas bahwa tayangan televisi termasuk tayangan untuk anak-anak tidaklah aman untuk dikonsumsi anak kita. Penelitian menunjukkan bahwa film anak-anak cenderung antisosial, maksudnya penuh berisi adegan yang memuat perkelahian, kata kasar, melukai, membunuh dan berbagai jenis gangguan terhadap orang lain. ( Mazdalifah, 1999).

Televisi sebagai salah satu media massa sebenarnya memiliki banyak peran yang bermanfaat bagi masyarakat. Mc. Quail dalam Mass Communication Theories (Jurnal Iski, 2001) menyebutkan ada enam peran media massa:

Pertama, melihat media massa sebagai window on events and experience. Media dipandang sebagai jendela yang memungkinkan khalayak melihat apa yang sedang terjadi di luar sana. Atau media merupakan sarana belajar untuk mengetahui berbagai peristiwa.

Kedua, media juga sering dianggap sebagai mirror of events in society and world, implying a faithful reflection. Cermin berbagai peristiwa yang ada di masyarakat dan dunia, yang merefleksikan apa adanya. Karenanya para pengelola media sering merasa tidak bersalah jika isi media penuh dengan kekerasan, konflik dan berbagai keburukan lain, karena memang menurut mereka faktanya demikian, media hanya sebagai refleksi fakta, terlepas dari suka atau tidak suka. Padahal sesungguhnya, angle, arah, dan framing dari isi yang dianggap sebagai cermin realitas tersebut diputuskan oleh para profesional media, dan khalayak tidak sepenuhnya bebas untuk mengetahui apa yang mereka inginkan.

Ketiga, memandang media massa sebagai filter, atau gatekeeper yang menyeleksi berbagai hal untuk diberi perhatian atau tidak. Media senantiasa memilih isu, informasi, atau bentuk substansi (isi) yang lain berdasar standar para pengelolanya. Di sini khalayak dipilihkan oleh media tentang apa-apa yang layak diketahui, dan mendapat perhatian.

Keempat, media massa acapkali pula dipandang sebagai guide, penunjuk jalan atau interpreter, yang menerjemahkan dan menunjukkan arah atas berbagai ketidakpastian, atau alternatif yang beragam.

Kelima, melihat media massa sebagai forum untuk mempresentasikan berbagai informasi dan ide-ide kepada khalayak, sehingga memungkinkan terjadinya tanggapan dan umpan balik.

Terakhir, keenam, media massa sebagai interlucor, yang tidak hanya sekedar tempat berlalu lalangnya informasi, tetapi juga rekan komunikasi yang memungkinkan terjadinya komunikasi yang interaktif.

Penjelasan mengenai peran media massa di atas menunjukkan bahwa isi media massa merupakan konsumsi bagi khalayaknya, sehingga apa yang ada di media massa akan mempengaruhi khalayaknya. Demikian pula halnya jika isi media berisikan hal-hal yang kurang mendidik seperti tayangan mistik, kekerasan, pornoaksi dan kemewahan, tentunya sedikit banyak akan mempengaruhi khalayak, khususnya khalayak anak-anak.

Anak-anak sebagai individu memiliki kecenderungan untuk meniru (imitasi). Anak-anak juga memiliki kecenderungan menganggap benar dan mengingat dengan mudah semua informasi yang ia terima. Berdasarkan hasil penelitian Nelson bahwa memori anak mulai terbentuk pada usia 3,5 – 4 tahun. Pada usia ini memori anak secara kumulatif mulai merekam berbagai kejadian di sekitar hidupnya. Hal yang penting dan berulang-ulang akan direkam secara relatif “menetap” dalam ingatannya (Mulyana & Ibrahim, 1997)

Anak-anak juga memiliki kemampuan berpikir yang berbeda-beda. Ada anak-anak yang mampu mencerna apa yang dilihatnya dengan baik, namun ada pula anak yang tidak mampu mencerna sehingga menerima apa yang dilihatnya, dan menganggapnya sebagai suatu hal yang benar. Andrew Meltzoff menyoroti pengaruh televisi terhadap anak-anak. Beliau menyatakan, “Pada usia awal, televisi memandu tindakan anak kepada perilaku nyata, anak akan meniru dan melakukan apa yang mereka lihat. Dua sampai enam tahun anak belum bisa mengevaluasi pesan yang mereka terima dari media. Mereka secara sederhana menerima apa saja yang mereka lihat dan menganggapnya sebagai tindakan biasa. Anak-anak belum dapat membedakan kenyataan dan khayalan samapai pada usia lima atau enam tahun. Usia enam sampai dua belas tahun mereka meniru apa yang mereka dengar dan lihat tanpa mengerti penuh apa konsekuensinya bila mereka melakukan tindakan tersebut.” (Gorham, 1997)

Cara belajar anak adalah dengan meniru. Mereka akan meniru dari apa yang mereka lihat (What they see is what they do). Oleh sebab itu jika dalam keseharian orang tua tidak mampu memberi teladan kepada anak, maka mereka akan meniru dari apa yang mereka lihat di sekelilingnya, termasuk media televisi. Namun jika televisi tidak mampu memberikan teladan, di mana lagi anak-anak akan mencari tokoh panutannya? Pertanyaan seperti inilah yang akhirnya membuat kita harus segera memikirkan jalan keluarnya.

Agenda mendesak ke depan adalah menciptakan media televisi yang peduli terhadap anak, sehingga mereka terhindar dari kemungkinan buruk yang bakal terjadi. Salah satu cara menuju terciptanya televisi peduli anak adalah berjuang lewat undang-undang penyiaran. Yaitu memperjuangkan lewat undang-undang agar pemerintah membuat aturan yang harus ditaati oleh pihak televisi. Aturan tersebut di antaranya adalah pihak televisi harus menayangkan acara bermutu dan aman bagi anak. Pada tahun 1996 kelompok-kelompok masyarakat yang peduli terhadap isu-isu konsumen, acara untuk anak-anak yang ditayangkan televisi, mendorong pemerintah untuk membuat UU Penyiaran untuk menjadi pedoman praktis dan standar mata acara yang dapat diterima publik.

Agenda selanjutnya adalah membuat acara televisi yang mendidik. Acara televisi yang mendidik ini harus memiliki beberapa syarat, yaitu isi pesannya baik audio maupun visualnya harus sesuai dengan selera anak-anak. Demikian pula waktu penayangannya hendaklah disajikan pada jam anak-anak, yaitu jam sebelum tidur (sore dan sebelum pukul 21.00).

Agenda yang tak kalah pentingnya adalah menumbuhkan kesadaran kritis anak terhadap televisi, di mana yang berperan di sini adalah orang tua, guru maupun tokoh keagamaan. Pemerintah sebagai pembimbing masyarakat melakukan semacam media education yang bertujuan mendidik masyarakat agar menonton televisi secara kritis, benar dan profesional (Venus Khadiz, 1997)

Beberapa agenda mendesak di atas harus segera kita realisir, mengingat kita terus mendapat gempuran televisi. Agenda tersebut akan terwujud apabila semua pihak (pemerintah, pemilik media televisi, praktisi televisi, orang tua, dan masyarakat) secara bergotong royong menyelesaikan masalah ini. Tidak ada kata terlambat untuk memulai, karena pepatah mengatakan, “Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.“ Ungkapan tersebut merefleksikan keoptimisan bagi kita, bahwa segalanya dapat terwujud, asal kita memiliki keinginan untuk memulainya.

 

Iklan

4 pemikiran pada “Televisi Peduli Anak

  1. tayangan tv yang berpihak pada anak semakin minim. yang minim itu pun penuh dengan catatan-catatan kritis.
    tv menjelma menjadi milik orang dewasa dan remaja yang mengebiri hak anak untuk mendapatkan tayangan yang semestinya; mendidik. alih-alih mendidik, tayangan yang ada justru mengajarkan anak2 pada kekerasan dan seksualitas yang cadas.tv telah juga menjadi abgian dari sistem hegemoni atas ekspresi. anak-anak sekarang tidak lagi punya kebebasan berekspresi karena tv telah menjadi center bagi kehidupannya. tv menjadi guru, babysitter, orang tua, teman bermain.
    thx. itu saja.
    —-itulah kekesalan saya pada tv——–kaalo ga nyambung mohon dimaklumi.

  2. aku pernah baca postingan di sebuah blog, yang membahas masalah smakdown, tau gak.. rata2 yang pro dengan tayangan smackdown kebanyakan anak SMP dan SMU..
    hahaha..
    mereka menganggap diri mereka sudah dewasa, dan pantas untuk menyaksikan tayangan gulat bodoh itu. lebih parahnya lagi mereka menyalahkan orang tua si anak yang gak bisa mengontrol anaknya sendiri…

    ngeri yah peran media sama kehidupan?

  3. saya makin hari makin prihatin dengan tayangan televisi.
    beberapa acara yang saya anggap konsumsi anak di bawah umur pada akhirnya “berevolusi” juga jadi tontonan remaja. lengkap dengan bumbu percintaan yang sok dewasa dan sok roman. padahal pemerannya ternyata bahkan belum lulus sd.
    ironis dan makin mengkhawatirkan saja. belum lagi acara dongeng yang katanya ditujukan untuk anak-anak tapi ditayangkan pada jam-jam belajar. alur ceritanya dibuat modern sehingga kalau saya pikir, dampaknya adalah anak-anak diberi hal-hal yang bersifat khayal. misal, uang yang tiba-tiba jatoh dari langit (ayolah, kita tau kalau uang hanya dapat diperoleh dengan bekerja, kecuali menang lotere tentunya). belum soal judes2an, jahat2an, fitnah2an, dan segudang hal buruk yang dilakukan pemeran dalam tayangan2 televisi.
    agaknya, pemerintah perlu meregulasi tayangan televisi. pengawasan diperketat, termasuk penayangan pada prime time.
    sayang sekali kalau gara-gara tayangan yang ga mutu ditinton, soft skill anak-anak jadi cetek….

    maksih atas wadahnya dan mohon maaf jika ada salah kata.

  4. Sebenarnya TV itu ga ada yang peduli sama anak-anak. Hal ini disebabkan 🙂 orang-orang di TV cuma tahu apa yang menarik buat anak-anak, bukan yang pentingnya.
    Padahal keduanya tidak harus bertentangan. Ya itu tadi, kurang riset.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s