Di dunia Islam, perlawanan terhadap percetakan tetap kuat sepanjang permulaan periode modern. Bahkan negara-negara Islam telah dianggap sebagai kendala bagi diseberangkannya teknologi percetakan dari Cina ke Barat. Menurut seorang duta besar imperium untuk Istambul pada pertengahan abad ke-16, orang Turki memandangnya sebagai suatu dosa bila mencetak buku-buku keagamaan. Ketakutatan akan dicap bidah merupakan latar belakang dari perlawanan terhadap percetakan dan pelajaran barat. Tahun 1915, Sultan Selim I (memerintah tahun 1512-1220) telah mengeluarkan sebuah titah untuk menghukum pelaku praktek percetakan dengan hukuman mati. Pada akhir abad itu, Sultan Murad III (memerintah tahun 1574-1595) mengizinkan dijualnya buku-buku cetakan yang bukan buku agama dengan tulisan Arab, namun semuanya itu mungkin barang impor dari Italia. (Sumber: Sejarah Sosial Media, Dari Gutenberg sampai Internet)
DIarsipkan di bawah: Dari Redaksi